AJI Desak Prabowo Minta Maaf atas Pernyataan "Londo Ireng"

Dok. presidenri.go.id
Jakarta, Indonara - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permohonan maaf setelah menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai "londo ireng" dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (23/07/26).

Sekretaris Jenderal AJI, Bayu Wardhana, menilai pernyataan tersebut mendiskreditkan profesi jurnalis dan mencederai prinsip kebebasan pers dalam negara demokrasi.

"Presiden sebaiknya meminta maaf atas pernyataan tersebut dan memperbaiki pidato-pidatonya," kata Bayu melalui pesan WhatsApp, Jumat (24/07/26).

Istilah londo ireng merujuk pada orang Indonesia yang dianggap mengabdi kepada kepentingan bangsa lain atau berpihak kepada pihak asing dengan mengorbankan kepentingan nasional. Bayu menilai penyematan istilah itu kepada jurnalis merupakan tuduhan tanpa dasar.

Menurut dia, jurnalis menjalankan tugas berdasarkan fakta dan kepentingan publik. Pemberitaan mengenai berbagai persoalan, termasuk kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), merupakan bagian dari fungsi pengawasan media terhadap kebijakan pemerintah.

Bayu meminta Presiden memandang pemberitaan sebagai kritik yang bertujuan mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan.

"Presiden jangan menyerang pembawa berita, tetapi memperbaiki persoalan yang diberitakan, misalnya dengan membenahi tata kelola program MBG," ujarnya.

Ia juga menilai pernyataan Prabowo memiliki dampak serupa dengan ucapan yang pernah dilontarkan pengacara Hotman Paris Hutapea kepada wartawan. Karena itu, AJI meminta Presiden menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pidato yang berkaitan dengan pers.

Dalam pidatonya di Jakarta Convention Center, Jakarta, Prabowo menyebut masih terdapat kelompok yang dinilainya mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.

"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng yang ikut Belanda perang melawan kita," ujar Prabowo.

Ia kemudian melanjutkan bahwa istilah tersebut masih relevan pada masa kini dengan bentuk yang berbeda.

"Londo-londo ireng itu sampai sekarang masih ada. Sekarang mereka memakai baju lain, wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM," katanya.

Selain itu, Prabowo turut mengkritik pemberitaan media yang menyoroti sekolah rusak, meskipun pemerintah mengklaim telah memperbaiki puluhan ribu sekolah.

Menurut Prabowo, sebagian media lebih memilih mengangkat kekurangan pemerintah daripada capaian pembangunan yang telah dilakukan.

"Ada media yang ketika pemerintah memperbaiki 67 ribu sekolah, justru mencari sekolah yang belum diperbaiki, lalu memotretnya dan menjadikannya berita utama," ujar Prabowo.

Ia menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik, tetapi menganggap pemberitaan semestinya memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi di lapangan.

Pernyataan Presiden tersebut memicu respons dari berbagai kalangan, terutama organisasi pers yang menilai pelabelan terhadap jurnalis berpotensi melemahkan kebebasan pers serta menghambat fungsi media sebagai pengawas jalannya pemerintahan.