Aisnu Jatim Perluas SABDA AI, Guru di Lamongan Dibekali Literasi Kecerdasan Buatan

Para pendidik dari tingkat TK hingga SMP di Lamongan yang dibekali literasi kecerdasan buatan oleh pengurus AISNU Jawa Timur (Dok: Indonara) 
Lamongan, Indonara — Arus Informasi Santri Nusantara (Aisnu) Jawa Timur kembali melanjutkan tren positif dalam penguatan literasi teknologi melalui program SABDA AI (Santri Berdaya dengan Artificial Intelligence). Kali ini, Aisnu Jatim menggandeng Founder Bumi Sagara Studio, Fahmi Adimara, dalam kegiatan yang berlangsung di wilayah Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut menyasar peserta dari kalangan pendidik. Tidak tanggung-tanggung, peserta yang hadir merupakan bapak dan ibu guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Program SABDA AI menjadi salah satu agenda Aisnu Jawa Timur yang saat ini terus bergerak di sejumlah titik strategis di Jawa Timur. Program tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis kepada santri dan masyarakat pendidikan dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Founder Bumi Sagara Studio, Fahmi Adimara, dalam kesempatan tersebut menyampaikan materi mengenai pemanfaatan teknologi AI, khususnya dalam menghasilkan konten video.

Fahmi menjelaskan secara langsung tata cara melakukan generate video berbasis AI agar hasil yang diproduksi dapat lebih maksimal. Materi tersebut diberikan secara praktis sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman secara konseptual, tetapi juga mengetahui bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan dalam produksi konten.

Kegiatan di Lamongan ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Fahmi Adimara bersama program SABDA AI. Ia tercatat telah tiga kali menjelajahi berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur melalui program yang sedang digerakkan oleh Aisnu Jawa Timur tersebut.

Dari jajaran pengurus Aisnu Jawa Timur, turut hadir dan mendampingi kegiatan Wakil Ketua Aisnu Jawa Timur Ahmad Tajudin Zahro’u, serta pengurus lainnya, Geofani Eko Priyantama dan Saniyatul Hikmah.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Tajudin Zahro’u yang akrab disapa Kang Rou menegaskan bahwa santri tidak boleh abai terhadap perkembangan media dan ruang digital.

Menurutnya, santri harus memiliki kecakapan dalam memahami media sekaligus mampu mengambil peran dalam mewarnai ruang-ruang digital.

“Santri harus cekap dengan media dan tidak boleh abai dalam mewarnai ruang-ruang digital,” tegas Kang Rou.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa perkembangan teknologi tidak semestinya dijadikan ruang yang harus dijauhi oleh santri. Sebaliknya, ruang digital harus diisi dengan kapasitas, kreativitas, dan kebermanfaatan.

Aisnu Jawa Timur juga tengah mempersiapkan agenda besar pada awal September mendatang. Organisasi tersebut akan menggelar Kopdarwil Aisnu Jawa Timur, yang disebut sebagai ruang kontestasi tertinggi dalam kepengurusan Aisnu Jawa Timur.

“Kami akan mengadakan pula kegiatan akbar di awal September, yakni Kopdarwil, yang merupakan ruang kontestasi tertinggi di dalam kepengurusan Aisnu Jawa Timur,” ujar Kang Rou.

Sementara itu, rangkaian kegiatan SABDA AI di Kecamatan Sekaran, Lamongan, menjadi gambaran bagaimana literasi kecerdasan buatan mulai diperkenalkan secara lebih luas kepada masyarakat pendidikan.

Tidak hanya berbicara mengenai perkembangan teknologi, kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi para guru untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan secara produktif dalam menghadapi perubahan ekosistem digital.

Di akhir kegiatan, pihak Pondok Pesantren Ar Roudloh Lamongan menutup rangkaian acara dengan doa dan ungkapan syukur atas terselenggaranya kegiatan SABDA AI pada pagi tersebut.

Melalui program SABDA AI, Aisnu Jawa Timur terus mendorong agar santri dan masyarakat pendidikan tidak sekadar menjadi penonton dalam perkembangan teknologi. Mereka didorong untuk memahami, menggunakan, sekaligus ikut mewarnai ruang digital dengan kemampuan yang dimiliki.

Dari Lamongan, pesan itu kembali ditegaskan: kemajuan teknologi tidak boleh membuat santri tertinggal, tetapi harus menjadi ruang baru untuk memperluas keberdayaan dan kebermanfaatan.