Hal tersebut disampaikan Wulan dalam diskusi publik bertajuk “Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad” yang diselenggarakan Tempo Data Science di Studio TV Tempo, Gedung Tempo, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026). Agenda tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Tempodotco.
Wulan mengatakan setiap calon pemimpin memiliki karakter dan gaya kepemimpinan masing-masing. Karena itu, perbedaan karakter tersebut perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi ekspresi ego kepemimpinan, tetapi mampu menjawab kebutuhan organisasi.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya salah satu kaidah yang selama ini menjadi prinsip dalam tradisi NU, yakni al-muhafadzatu 'alal qadimi shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Kaidah tersebut menekankan pentingnya mempertahankan tradisi lama yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
“Artinya kita mempertahankan tradisi, merawat tradisi lama yang selama ini ada di NU. Dan kita tidak gagap dengan inovasi-inovasi baru,” ujar Wulan.
Menurut Wulan, prinsip tersebut penting untuk menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam menilai integritas para calon Ketua Umum PBNU. Ia menilai pemimpin NU ke depan tidak cukup hanya mampu menjaga apa yang telah diwariskan, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk menghadirkan pembaruan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Ini penting, salah satu integritas yang mungkin perlu di-highlight oleh para calon Ketua Umum PBNU,” katanya.
Wulan juga menyinggung besarnya jumlah jamaah NU yang tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang dan warisan perjuangan generasi sebelumnya. Karena itu, menurutnya, apa yang telah dibangun oleh para pendahulu harus tetap dirawat dan diteruskan.
“Tadi disampaikan oleh Mbak Inayah bahwa kita enggak mungkin ujug-ujug ada 150 juta jamaah NU. Pasti ada proses yang begitu panjang,” tuturnya.
Ia menegaskan, proses panjang tersebut menjadi alasan bagi calon pemimpin NU untuk memahami sejarah dan tradisi organisasi sebelum membawa agenda perubahan. Warisan dari kepemimpinan sebelumnya, kata Wulan, perlu diteruskan dengan tetap menyesuaikan diri terhadap kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
“Artinya apa yang diwariskan dari sebelum-sebelumnya itu perlu kita rawat dan kita teruskan dengan mengambil inovasi-inovasi yang lebih relevan, terutama memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama ini,” tegasnya.
Memasuki abad kedua, Wulan berharap NU dapat semakin terbuka terhadap gagasan dan perubahan. Sikap terbuka tersebut diperlukan agar NU tidak terjebak pada romantisme tradisi, tetapi mampu menjadikan tradisi sebagai pijakan untuk menghadapi tantangan baru.
“Lebih terbuka lagi, artinya lebih open minded,” pungkas Wulan.
