Lewat FGD Santri Next, PW ISNU Jatim Siapkan Gagasan Transformasi Jawa Timur

Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof. Dr. H. M. Afif Hasbullah, S.H., M.Hum.,  saat menyampaikan sambutannya di agenda Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Santri Next” dengan tema “Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur”, Sabtu (10/10/2026) (Dok: Indonara) 
Surabaya, Indonara – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Santri Next” dengan tema “Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur”, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Mercure Grand Mirama Surabaya tersebut menjadi forum diskusi untuk merumuskan gagasan strategis mengenai peran santri dan pesantren dalam mendorong transformasi Jawa Timur di tengah perkembangan teknologi dan era digital.

Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof. Dr. H. M. Afif Hasbullah, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa santri harus mengambil peran strategis dalam menentukan arah perubahan dan pembangunan peradaban. Menurutnya, santri tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mampu menghadirkan pemikiran, gagasan, inovasi, hingga gerakan nyata di berbagai sektor kehidupan.

“Sebagai santri, kita mesti harus senantiasa memegang peran, memegang kendali, apakah itu dari sisi pemikiran, gagasan ide hingga langkah gerak. Itu adalah santri yang mewarnai,” ujarnya.

Afif menjelaskan, santri sejak masa perjuangan kemerdekaan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama di Surabaya serta Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi pengingat atas kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, semangat perjuangan tersebut perlu diteruskan dalam konteks kekinian. Jika dahulu santri berperan dalam perjuangan kemerdekaan, kini santri harus mampu mengambil bagian dalam perkembangan teknologi, transformasi digital, pendidikan, ekonomi, serta pembangunan pusat-pusat peradaban intelektual.

“Santri ini senantiasa menjadi pemimpin peradaban itu sendiri,” tegasnya.

Afif juga mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah agar generasi penerus tidak kehilangan gagasan besar yang menjadi fondasi berdirinya bangsa dan Nahdlatul Ulama. Ia menyinggung pemikiran Ibnu Khaldun mengenai pergantian generasi, mulai dari generasi pendobrak, generasi pembangun, hingga generasi yang hanya menikmati hasil pembangunan.

Ia mengingatkan agar generasi saat ini tidak terjebak menjadi penikmat yang melupakan perjuangan para pendahulu. Sebaliknya, santri dan kader NU harus terus merawat nilai perjuangan para pendiri bangsa dan muassis NU, termasuk Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

“Jangan sampai kita tercerabut dari akar bagaimana fondasi negara ini didirikan, kemudian Jam'iyah Nahdlatul Ulama ini didirikan dan bagaimana pemeranan para santri ini sebagaimana digagas diharapkan oleh Hadratus Syekh Romo Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari dan Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah dan seluruh muasis Jamiyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Afif menilai sumber daya manusia di lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Diaspora warga NU telah tersebar hingga berbagai negara dan pusat peradaban intelektual dunia. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dioptimalkan agar santri dapat mengambil peran lebih luas di berbagai bidang.

Ia juga mendorong agar hasil diskusi menghasilkan gagasan segar yang selaras dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah kabupaten dan kota. Sinergi tersebut diharapkan dapat membuka ruang inovasi bagi kalangan santri, akademisi, peneliti, birokrat, legislator, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.

Afif turut menyoroti visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Menurutnya, visi tersebut membutuhkan dukungan pemikiran, sumber daya manusia, serta kerja nyata dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren.

Ia mengajak warga NU dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung program pemerintah serta memaksimalkan potensi daerah. Menurutnya, berbagai keunggulan Jawa Timur perlu dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu memperkuat kontribusi daerah terhadap pembangunan nasional.

Melalui FGD Santri Next, PW ISNU Jawa Timur berharap lahir gagasan dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kepentingan, baik di tingkat pemerintah provinsi, legislatif, maupun sektor lainnya.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Ir. Mohammad Yasin, M.Si. selaku Kepala BPKAD Jawa Timur, Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag. selaku Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. selaku Kapus Strategi Kebijakan Pembangunan Kementerian Agama RI, serta Ning Khilma Anis, novelis.

Afif menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap forum ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi menghasilkan pemikiran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat peran santri dalam memimpin perubahan dan membangun peradaban.