![]() |
| Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid. |
Probolinggo - Pada malam puncak peringatan Haul Masyayikh dan Harlah ke-77, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, menegaskan bahwa peringatan tersebut tidak dimaknai sebatas perayaan usia, melainkan sebagai momentum untuk menguatkan langkah kolektif menuju kemajuan pesantren.
“Angka 77 ini barangkali bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum bagi kita untuk mengukuhkan langkah bersama menuju perbaikan dan kemajuan yang lebih sistematis, strategis, dan terukur sesuai dengan cita-cita para pendiri dan para pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid,” jelasnya.
Ra Hamid, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa momentum Harlah juga menjadi penguat komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk terus bergerak dalam transformasi dan perbaikan nyata.
“Pada peringatan tahun ini, kita mengusu tema ‘dari Tradisi ke Transformasi’. Tema ini merupakan wujud komitmen dan keistikamahan kita dalam menjaga nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, Sahabat, Tabiin, dan salafunasshalih, serta muassis pondok pesantren,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini Pondok Pesantren Nurul Jadid tetap berpegang pada kaidah almuhafadha al-qadim sholih wal-akhdu bil jadidil aslah, yakni menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil tradisi baru yang lebih baik dan bermanfaat.
“Pondok Pesantren Nurul Jadid tidak hanya menjaga warisan intelektual masa lalu, tapi juga melakukan transformasi diri. Kita bergerak mengambil tradisi-tradisi baru yang bermanfaat dan membawa maslahah (kebaikan) bagi kepentingan agama, bangsa, dan masyarakat luas di era yang terus berubah ini,” tuturnya.
Ra Hamid menegaskan bahwa visi Pondok Pesantren Nurul Jadid diarahkan untuk menjadi lembaga yang unggul dan mandiri.
“Kita bercita-cita mencetak pribadi yang soleh, mandiri, berilmu, berjuang, dan berbakti. Untuk mewujudkannya kita telah membedah strategi dan rencana Induk Pesantren 2021-2040,” ujarnya.
Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, Ra Hamid menyebut penguatan manajemen pesantren difokuskan pada empat pilar utama.
“Yang pertama manajemen pendidikan yang berkualitas, manajemen sumber daya manusia yang kompeten, manajemen pendanaan atau kemandirian yang kuat, serta manajemen sarana perasana yang representatif,” katanya.
Ia menambahkan, transformasi pesantren tidak cukup hanya bertumpu pada semangat, melainkan harus diperkuat dengan fondasi organisasi dan penerapan sistem yang kokoh. Salah satunya melalui penerapan standar operasional berbasis ISO.
Ra Hamid menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid telah memiliki Standar Operating Procedure (SOP) dengan prinsip ISO 9001-2015 terkait manajemen mutu dan ISO 21001-2015 yang berkaitan dengan manajemen organisasi pendidikan.
Menurutnya, penerapan ISO 9001-2015 memastikan seluruh layanan pendidikan dan dakwah terintegrasi, terukur, serta terus mengalami perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement. Sementara ISO 21001-2018 menegaskan komitmen pada pembelajaran yang berpusat pada santri atau learner-centered education.
“Kita ingin menciptakan lingkungan inklusif untuk membentuk karakter berdasarkan panca kesadaran dan trilogi santri. Hadirin yang dirahmati Allah, kita ingin menunjukkan bahwa keunggulan pesantren adalah keunggulan holistik. Seimbang antara kekuatan moralitas dan intelektualitas dengan tata kelola profesional yang transparan dan akuntabel,” paparnya.
Ia pun menegaskan komitmen bersama para masyayikh dan pengurus pesantren untuk terus menginternalisasikan panca kesadaran dan trilogi santri sebagai ruh dalam setiap sistem yang dibangun.
“Yang kedua mengupayakan disiplin dan istiqomah dalam menjalankan SOP sebagai bentuk pengabdian yang profesional. Ketiga, terbuka pada inovasi dan evaluasi demi kemajuan di bidang pendidikan, ekonomi maupun dakwah,” lanjutnya.
Keempat, menurut Ra Hamid, sertifikasi ISO juga akan dijadikan sarana pengkaderan agar seluruh elemen pesantren terbiasa bekerja secara terstruktur dan bertanggung jawab.
“Insya Allah, dengan memadukan nilai luhur pesantren dan manajemen mutu modern. Pesantren Nurul Jadid akan semakin kokoh menjadi mercusuar peradaban,” ujarnya.
“Kita tidak hanya ingin mencetak generasi yang ahli dalam ilmu agama, tetapi juga generasi pengelola peradaban yang mampu berkontribusi bagi kesejahteraan umat dunia hingga akhirat,” pungkasnya.
