Haul Nurul Jadid, Kiai Zuhri Tekankan Tanggung Jawab Merawat Warisan Masyayikh

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini.

Probolinggo - 
Peringatan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid digelar di halaman pesantren, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Minggu, 18 Januari 2026. Kegiatan tahunan ini menjadi momentum kirim doa bagi para pendahulu sekaligus refleksi bersama atas amanah besar melanjutkan visi pendidikan dan pengabdian pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menegaskan bahwa terselenggaranya haul merupakan bentuk izin dan anugerah dari Allah Swt. Ia mengingatkan, rasa syukur kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari sikap menghargai dan berterima kasih kepada para masyayikh yang telah berjasa membangun pesantren.

“Tidak sempurna syukur kepada Allah, jika kita tidak bersyukur, berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita,” tuturnya.

Menurut Kiai Zuhri, mengenang dan mendoakan para pendahulu merupakan hal penting. Namun, yang tidak kalah krusial adalah tanggung jawab generasi penerus dalam menjaga dan mengembangkan warisan yang telah ditinggalkan.

“Mengenang dan mendoakan para pendahulu memang penting, namun yang tidak kalah krusial adalah menjaga, merawat, dan mengembangkan seluruh warisan yang telah ditinggalkan, baik dalam bentuk fisik maupun nilai-nilai non-fisik,” ungkapnya di hadapan para hadirin.

Ia menjelaskan, perkembangan Pondok Pesantren Nurul Jadid hingga saat ini merupakan buah dari rintisan dan khidmah para masyayikh terdahulu. Dedikasi tersebut terwujud dalam berbagai aspek, mulai dari sistem pendidikan, metode pengajaran, hingga karya-karya tulis yang menjadi rujukan keilmuan.

Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri juga memohon doa kepada seluruh masyarakat dan para pengabdi agar senantiasa diberikan kekuatan serta hidayah dalam mengemban amanah pesantren. Ke depan, ia menegaskan pentingnya menjaga agar visi dan misi para pendiri tetap hidup dan relevan, baik di lingkungan internal pesantren maupun dalam pengabdian kepada masyarakat luas.

Peringatan haul yang dirangkai dengan Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid ini sekaligus menjadi ajang silaturrahmi santri dan alumni. Momentum tersebut dimaknai sebagai pengingat untuk menempatkan diri sebagai pewaris aktif yang tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga inovatif dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam demi kemaslahatan umat.

“Salah satu syukur santri adalah menjaga, menjalankan dan mengembangkan apa yang telah diajarkan para guru, minimal tidak merusaknya,” jelasnya.