![]() |
| Salman Akif Faylasuf (Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial) |
Sejak didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama pendahulu pada 1926, NU telah melampaui fase bertahan hidup dan kini berada di ambang tantangan yang jauh lebih besar: bagaimana mengubah “kebesaran jumlah” menjadi “kedigdayaan peradaban”.
Dengan kata lain, menapaki abad kedua bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk merevitalisasi pondasi institusional, memperteguh keteladanan kiai, serta mensinergikan khazanah pesantren dengan semangat kemajuan global demi martabat kemanusiaan.
Akar Tradisi: Keteladanan Kiai dan Khazanah Pesantren
Kedigdayaan peradaban NU tidak dibangun di atas ruang hampa. Ia berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren yang telah teruji melintasi zaman. Pesantren adalah laboratorium peradaban yang mengajarkan keseimbangan antara tashawwuf (kesucian jiwa), fiqh (ketaatan hukum), dan tauhid (kedaulatan akidah). Di dalam dinding-dinding bambu dan kitab-kitab kuning, para kiai telah menanamkan nilai-nilai kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan yang menjadi DNA setiap nahdliyin.
Keteladanan para kiai bukan sekadar soal kharisma, melainkan tentang konsistensi antara ucapan dan tindakan (uswatun hasanah). Di abad kedua ini, tantangan terberat adalah menjaga agar “ruh” pesantren ini tidak hilang di tengah arus modernisasi.
Kita harus memastikan bahwa kecanggihan teknologi dan manajemen organisasi yang modern tidak menggeser kedalaman spiritualitas. Justru, khazanah pesantren harus menjadi “sistem operasi” yang menggerakkan kemajuan tersebut. Nilai tasamuh (toleransi), tawasuth (moderat), dan tawazun (seimbang) yang diajarkan di pesantren adalah antitesis dari narasi kebencian yang sering kali muncul dalam pertarungan peradaban global.
Institusionalisasi: Membangun Fondasi yang Kokoh
Kebesaran jam’iyah tanpa fondasi institusional yang kokoh ibarat raksasa yang tidak memiliki tulang belakang. Selama satu abad, NU berhasil bertahan berkat akar rumput yang militan. Namun, memasuki abad kedua, militansi saja tidak cukup. NU membutuhkan tata kelola organisasi yang berbasis pada profesionalisme, transparansi, dan efisiensi.
Modernisasi institusi bukan berarti meniru gaya korporasi secara buta, melainkan mengadopsi prinsip-prinsip manajemen yang baik agar sumber daya manusia dan aset NU dapat dikelola untuk kemaslahatan yang lebih luas. Penguatan basis data, digitalisasi layanan pendidikan dan kesehatan, serta penguatan lembaga penelitian harus menjadi prioritas.
Ketika institusi NU menjadi kokoh dan terukur, ia tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan sesaat. Institusi yang kuat akan melindungi para kiai dan umat dari manipulasi kekuasaan, sekaligus menjamin bahwa khidmah organisasi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang paling bawah secara merata.
Gotong Royong Modern: Menjawab Tantangan Global
Konsep “gotong royong” dalam NU sering kali dipahami secara tradisional sebagai kerja bakti fisik. Namun, di abad kedua, kita harus menerjemahkannya ke dalam bahasa “gotong royong modern” atau kolaborasi strategis. Ini adalah era di mana tantangan dunia (mulai dari perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, hingga krisis moral) tidak bisa diselesaikan sendirian.
NU harus menjadi motor penggerak kolaborasi global. Dengan basis massa yang masif, NU memiliki potensi untuk membangun jaringan ekonomi dan intelektual yang saling menguatkan. Gotong royong modern berarti membangun ekosistem ekonomi umat di mana santri tidak hanya menjadi konsumen, tetapi produsen. Ini berarti membangun jejaring intelektual di mana pemikir-pemikir NU terlibat dalam perdebatan akademik global tentang hak asasi manusia, keadilan lingkungan, dan etika kecerdasan buatan.
Kedigdayaan peradaban akan tercapai ketika NU mampu menawarkan solusi konkret atas penderitaan umat manusia. Martabat kemanusiaan (human dignity) adalah nilai universal yang dijunjung tinggi oleh Islam dan sejalan dengan cita-cita NU. Dengan membawa misi rahmatan lil alamin ke panggung internasional, NU tidak hanya menjaga Indonesia, tetapi juga menawarkan cetak biru perdamaian bagi dunia.
Menjaga Marwah di Tengah Godaan Pragmatisme
Dalam upaya menuju kedigdayaan peradaban, NU harus tetap waspada terhadap jebakan pragmatisme. Sebagaimana ditegaskan dalam Khittah, NU harus menjaga jarak yang berwibawa dari politik praktis partisan.
Sebuah peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya mengejar kursi jabatan atau kepentingan politik jangka pendek. Peradaban dibangun oleh para pejuang yang berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang (lintas generasi).
Jika NU terjebak menjadi mesin politik, ia akan kehilangan energi kreativitasnya. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun universitas, rumah sakit, dan pusat inovasi, akan habis untuk memenangkan pertarungan politik yang nihil nilai. Menjaga marwah organisasi berarti menjaga energi organisasi tetap fokus pada tujuan luhurnya: memanusiakan manusia dan menjaga martabat bangsa.
Visi Masa Depan: Santri dan Tantangan Dunia Baru
Masa depan NU berada di tangan para santri masa kini: generasi yang lahir di era digital namun tetap memegang teguh sanad keilmuan pesantren. Generasi inilah yang akan menjembatani antara tradisi dan inovasi. Mereka adalah pembawa obor yang akan membawa khazanah pesantren ke panggung-panggung global.
Pendidikan yang terintegrasi antara penguasaan ilmu agama yang dalam dan penguasaan sains serta teknologi adalah kunci. Kita ingin melihat lahirnya ilmuwan, teknokrat, dan entrepreneur dari rahim pesantren yang tidak sekadar ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki etika moral yang kuat. Inilah yang akan menjadi pondasi bagi kedigdayaan peradaban NU: kekuatan moral yang didukung oleh keunggulan intelektual.
Mengukir Sejarah di Abad Kedua
Menuju kedigdayaan peradaban adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan keikhlasan. Kita tidak sedang membangun monumen untuk hari ini, melainkan sedang menanam pohon untuk masa depan cucu-cucu kita. Setiap langkah institusional yang kita ambil hari ini, setiap keteladanan yang kita tunjukkan, dan setiap kolaborasi yang kita bangun, adalah investasi bagi martabat kemanusiaan.
Abad kedua ini adalah waktu berharga bagi NU untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam yang ramah, moderat, dan inklusif bukan hanya sebuah teori, tetapi sebuah praktik peradaban yang nyata.
Sebab, dengan memegang teguh ajaran kiai, memperkuat institusi, dan bergotong royong secara modern, NU akan terus bersinar sebagai jangkar bagi Indonesia dan mercusuar bagi dunia. Kebesaran jam’iyah hanyalah permulaan. Kedigdayaan peradaban adalah tujuan akhir, di mana martabat manusia ditempatkan pada posisi tertinggi, sesuai dengan visi luhur Islam yang menjadi ruh perjuangan Nahdlatul Ulama. Wallahu a’lam bisshawab.
***
*) Oleh: Salman Akif Faylasuf (Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
