![]() |
| (Kunjungan Pondok Pesantren Darul Falah Besongo di Institut Agama Islam Attarmasi - Dok: Panitia Ziyadah). |
Pacitan, Indonara - Di lingkungan pesantren, perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Setiap langkah merupakan ikhtiar menyambung sanad, setiap ziarah menjadi penghormatan kepada para ulama, dan setiap silaturahmi menghadirkan ruang bertemunya tradisi keilmuan yang diwariskan lintas generasi. Semangat inilah yang mewarnai rangkaian Ziyadah Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang ke Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan pada Sabtu (20/06/26).
Sebelum tiba di Pondok Tremas, rombongan santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo terlebih dahulu melaksanakan ziarah ke makam Ki Ageng Basyariah di Sewulan, Madiun, kemudian dilanjutkan ke makam KH Muhammad Besari di Tegalsari, Ponorogo.
Rangkaian tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan spiritual, tetapi juga menggambarkan kesinambungan perkembangan dakwah Islam dan tradisi pesantren di tanah Jawa. Dari jejak perjuangan para ulama terdahulu, estafet keilmuan terus berlanjut hingga tumbuh dan berkembang di berbagai pesantren, termasuk Pondok Tremas yang dikenal sebagai salah satu penjaga warisan intelektual Islam Nusantara.
Setibanya di Perguruan Islam Pondok Tremas, rombongan disambut hangat oleh Pengasuh Pondok Tremas, KH. Luqman Harits Dimyathi, beserta keluarga besar pondok. Suasana silaturahmi berlangsung penuh kehangatan melalui sambutan, mau'izah hasanah, dialog, dan doa bersama.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag. menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan yang diberikan oleh keluarga besar Pondok Tremas. Beliau menuturkan bahwa Ziyadah merupakan tradisi yang senantiasa dijaga oleh Darul Falah Besongo sebagai sarana mempererat ukhuwah antarpesantren sekaligus memperluas wawasan santri melalui perjumpaan dengan para ulama dan pusat-pusat tradisi keilmuan Islam.
Beliau juga mengungkapkan harapan agar seluruh peserta memperoleh keberkahan dari para masyayikh Tremas.
"Mudah-mudahan kita semua dianggap sebagai santri Mbah Abdul Manan dan Mbah Lukman, sehingga dapat terus istiqamah memperjuangkan ilmu," tegas Prof. Imam Taufiq.
Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam tradisi pesantren, hubungan seorang santri dengan para ulama tidak hanya terjalin melalui proses belajar, tetapi juga melalui penghormatan, keteladanan, dan keberlanjutan sanad keilmuan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
![]() |
| (Pengasuh Pesantren Darul Falah Besongo KH Imam Taufiq dan Pengasuh Pesantren KH. Luqman Haris Dimyathi - Dok: Panitia Ziyadah). |
Menjaga Sanad, Merawat Perjuangan Ilmu
KH Luqman Harits Dimyathi dalam mau'izah hasanahnya, menyampaikan sejarah singkat berdirinya Pondok Tremas, asal-usul penamaannya, serta pentingnya menjaga kesinambungan sanad sebagai fondasi utama pendidikan pesantren. Beliau menegaskan bahwa kekuatan pesantren tidak semata terletak pada usia ataupun bangunannya, melainkan pada kemampuannya menjaga mata rantai ilmu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
Beliau juga membagikan perjalanan intelektualnya hingga memperoleh amanah mengajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi para santri untuk senantiasa memiliki cita-cita besar, disertai kesungguhan dalam menuntut ilmu serta keteguhan dalam memegang nilai-nilai kepesantrenan.
Sebagai penutup rangkaian silaturahmi, KH Luqman Harits Dimyathi berkenan mengijazahkan doa kepada seluruh peserta sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang telah diwariskan oleh para masyayikh Pondok Tremas.
اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيَ الْكُتُبَ كُلَّهَا
Allahumma sakhkhir lī al-kutuba kullahā.
"Ya Allah, mudahkanlah bagiku memahami seluruh kitab."
Pemberian ijazah tersebut menjadi momen yang penuh makna, sebagai simbol keberlanjutan tradisi keilmuan, keberkahan sanad, serta amanah untuk terus menghidupkan semangat belajar dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan.
Usai kegiatan silaturahmi dan studi banding, rombongan melanjutkan ziarah ke makam pendiri Pondok Tremas, KH Abdul Manan. Ziarah ini menjadi penutup yang sarat makna, mengingatkan bahwa setiap tradisi besar yang terus hidup hingga hari ini berawal dari keikhlasan, perjuangan, dan dedikasi para ulama dalam menjaga ilmu serta mendidik generasi penerus.
Melalui rangkaian Ziyadah ini, Pondok Pesantren Darul Falah Besongo tidak hanya melaksanakan kunjungan antarlembaga, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus merawat tradisi keilmuan, mempererat ukhuwah antarpesantren, serta menyambung mata rantai sanad yang telah diwariskan oleh para ulama. Sebab dalam tradisi pesantren, perjalanan terbaik bukanlah tentang sejauh mana kaki melangkah, melainkan sejauh mana nilai, adab, dan ilmu para pendahulu dapat diteruskan dalam kehidupan generasi penerus.

