![]() |
| KH Muhammad Faiz Sa'di Amir, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumi Jenggawah Jember (Dok: Istimewa) |
Hal itu disampaikan dalam agenda Hari Sosial PC Muslimat NU Kabupaten Jember yang dikemas dengan Pengajian Muharram, Berbagi Kasih dengan Anak Yatim, serta Penyambutan Hajjah Baru 2026 di Pendopo Wahyawibawagraha Kabupaten Jember, Minggu (26/7/2026).
Dalam tausiyahnya, KH Faiz mengajak jamaah untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan umat Islam di Indonesia. Menurutnya, meskipun Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, hal tersebut belum tentu berbanding lurus dengan pengamalan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
"Kita bangsa Indonesia mayoritas muslim, tapi apakah benar-benar mengamalkan nilai-nilai dan ajaran agama Islam? Belum tentu," ujarnya.
Untuk menggambarkan pentingnya nilai kejujuran, KH Faiz membagikan pengalamannya saat mendapat amanah dari Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan safari dakwah di Taiwan selama Ramadan 2024. Selama berada di sana, ia bertemu dengan pengurus PCINU Taiwan dan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang jumlahnya mencapai sekitar 250 ribu hingga 280 ribu orang.
Ia mengisahkan cerita yang disampaikan salah seorang pengurus PCINU Taiwan tentang tingginya budaya kejujuran masyarakat setempat. Seorang warga Indonesia pernah meninggalkan tas di dalam taksi, namun tas tersebut dikembalikan oleh sopir karena di dalamnya terdapat identitas pemilik.
"Ada salah seorang teman di PCINU yang tasnya tertinggal di dalam taksi. Tak lama kemudian, karena di tas itu ada identitasnya, tas tersebut oleh sopir taksinya diantarkan ke kantor PCINU di Taiwan. Artinya, barang yang hilang dikembalikan kepada pemiliknya. Berarti menunjukkan apa? Kejujuran," tuturnya.
Namun, cerita berikutnya justru membuat dirinya tersentak. Ia mengaku merasa tertampar ketika mendengar candaan sekaligus sindiran dari rekannya di Taiwan mengenai perilaku sebagian warga Indonesia.
"Akhirnya teman saya bilang seperti ini, 'Gus, kalau di sini ada barang kita yang hilang lalu tidak kembali, itu bisa dipastikan yang menemukan orang Indonesia.' Saya mendengar itu seperti ditampar. Ya Allah, seperti itukah kita?" ungkapnya.
Menurut KH Faiz, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa citra suatu bangsa dibentuk oleh kebiasaan masyarakatnya. Karena itu, ia mengajak seluruh umat Islam untuk mulai membangun kebiasaan-kebiasaan baik, dimulai dari hal-hal sederhana.
"Nah, ini citra. Kita akan dikenal identitasnya dengan kebiasaan kita. Apa kebiasaan kita, itulah identitas kita. Hari ini kita perlu membangun kebiasaan itu karena itu akan menjadi identitas," katanya.
Ia menegaskan bahwa kejujuran maupun ketidakjujuran tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan yang terus diulang dalam kehidupan sehari-hari.
"Soal kejujuran, ketidakjujuran dan lain-lain itu berangkat dari kebiasaan yang kita lakukan. Tidak harus besar-besar, cukup hal-hal yang kecil, karena kejujuran itu berasal dari kedalaman hati kita," pungkasnya.
