![]() |
| Gus Gudfan Arif Ghofur |
Indonara - Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua. Momentum ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa-masa awal berdirinya jam'iyah. Pada fase ini, perhatian utama tertuju pada kemampuan menjaga arah perjuangan, merawat persaudaraan, serta memastikan seluruh potensi organisasi tetap bergerak dalam satu tarikan napas, yakni khidmah kepada umat.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar. Ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, hingga generasi muda hadir sebagai kekuatan yang saling melengkapi. Dinamika organisasi tentu menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Karena itu, diperlukan ruang yang mampu mempertemukan berbagai pandangan melalui jalan musyawarah dan kebijaksanaan.
Dalam konteks itulah gagasan tentang poros tengah memperoleh relevansinya. Poros tengah merupakan ikhtiar menghadirkan titik temu yang mampu menjahit kembali persaudaraan di tengah beragam pandangan. Tradisi Nahdlatul Ulama sejak awal bertumpu pada nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi bagi setiap langkah organisasi dalam menjaga persatuan.
Sebagai cicit KH. Irfan bin Musa dari Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, saya tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan adab sebagai fondasi kepemimpinan. Ilmu melahirkan kecerdasan, sedangkan adab melahirkan kewibawaan. Kepemimpinan dalam tradisi pesantren lahir melalui keteladanan, kesabaran, keluasan hati, serta kemampuan merangkul berbagai perbedaan.
Kepemimpinan yang Teduh
Dalam pandangan saya, Gus Gudfan Arif Ghofur menghadirkan karakter kepemimpinan yang dekat dengan tradisi tersebut. Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, memilih bekerja secara tenang, serta mengedepankan manfaat bagi umat daripada membangun popularitas pribadi. Latar belakangnya sebagai saudagar memperlihatkan bahwa keberhasilan ekonomi dapat diarahkan untuk memperluas kemaslahatan dan memperkuat pengabdian kepada jam'iyah.
Berbagai kalangan yang mengenalnya memandang Gus Gudfan sebagai sosok yang nyaman membangun komunikasi di balik layar. Ia aktif mempertemukan ulama, santri, akademisi, saudagar, profesional, serta generasi muda Nahdlatul Ulama dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Orientasi utamanya tertuju pada terpeliharanya persatuan dan ukhuwah.
Karakter tersebut selaras dengan nilai tawadhu' yang menjadi salah satu akhlak utama dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Dalam Risâlatul Mu‘âwanah, Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang tawadhu' ialah lebih mencintai ketidaktenaran daripada kemasyhuran. Keikhlasan menjadi landasan setiap pengabdian sehingga perhatian tertuju pada kebermanfaatan, bukan pada pujian manusia.
Pendekatan yang ditempuh Gus Gudfan juga terlihat melalui penguatan silaturahmi, dialog, dan komunikasi antarelemen organisasi. Pola kepemimpinan seperti ini memiliki peluang besar menghadirkan suasana yang lebih teduh sehingga energi organisasi dapat diarahkan kepada pelayanan umat.
Melanjutkan Spirit Pengabdian KH. Hasan Gipo
Sejarah Nahdlatul Ulama menghadirkan banyak teladan kepemimpinan. Salah satu tokoh penting ialah KH. Hasan Gipo, Ketua Umum PBNU pertama periode 1926–1934. Beliau dikenal sebagai saudagar yang mengabdikan kemampuan, jaringan usaha, serta sumber daya yang dimiliki demi membangun organisasi pada masa-masa awal kelahirannya.
KH. Hasan Gipo meninggalkan warisan penting bahwa kekuatan ekonomi memiliki fungsi sosial dalam menopang perjuangan ulama dan keberlangsungan jam'iyah. Dunia usaha dipandang sebagai instrumen memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Spirit tersebut menemukan relevansinya pada masa sekarang. Dalam pandangan saya, Gus Gudfan Arif Ghofur memperlihatkan semangat yang sejalan dengan warisan tersebut. Keberhasilan ekonomi ditempatkan sebagai sarana memperbesar manfaat bagi umat serta memperkuat Nahdlatul Ulama. Orientasi pengabdian memperoleh ruang yang lebih luas melalui kemandirian.
Persamaan lain tampak pada kemampuan mempertemukan berbagai unsur dalam organisasi. Pada masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama, KH. Hasan Gipo mampu menghimpun ulama, saudagar, santri, serta masyarakat dalam satu gerakan bersama. Semangat itulah yang tetap relevan bagi Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.
Jejak kepemimpinan seperti ini menghadirkan harapan akan lahirnya figur yang mampu menjaga ukhuwah, mengurangi sekat antarkelompok, serta menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi. Dalam perspektif tersebut, Gus Gudfan Arif Ghofur dipandang sebagai salah satu figur yang berupaya melanjutkan spirit pengabdian KH. Hasan Gipo.
Kerendahan Hati sebagai Mahkota Kepemimpinan
Perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua memerlukan pemimpin yang memandang jabatan sebagai amanah. Keteladanan akan selalu memiliki daya pengaruh yang jauh lebih kuat dibanding retorika.
Para ulama telah lama mengingatkan pentingnya sikap tawadhu'.
تَوَاضَعْ إِذَا مَا نِلْتَ فِي النَّاسِ رِفْعَةً
فَإِنَّ رَفِيْعَ الْقَوْمِ مَنْ يَتَوَاضَعْ
"Rendah hatilah ketika engkau memperoleh kedudukan di tengah manusia. Sesungguhnya orang yang paling tinggi derajatnya di suatu kaum ialah mereka yang rendah hati."
Petuah lain juga menegaskan:
تَوَاضَعْ إِذَا مَا كَانَ قَدْرُكَ عَالِيًا
فَإِنَّ اتِّضَاعَ الْمَرْءِ مِنْ شِيَمِ الْعَقْلِ
"Rendah hatilah ketika kedudukanmu tinggi, karena kerendahan hati merupakan salah satu tanda kematangan akal."
Nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sangat mendalam bagi perjalanan Nahdlatul Ulama. Organisasi ini memerlukan pemimpin yang mampu menghadirkan keteduhan, gemar mendengar aspirasi, serta menjaga hati seluruh warga jam'iyah.
Poros Tengah untuk Masa Depan PBNU
Poros tengah menjadi jalan yang dapat memperkuat persatuan Nahdlatul Ulama. Jalan ini mengedepankan musyawarah, persaudaraan, dan penghormatan terhadap seluruh unsur organisasi. Persatuan lahir ketika setiap elemen menempatkan kepentingan jam'iyah sebagai prioritas bersama.
Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat tersebut menjadi landasan moral bahwa organisasi Islam bertumbuh melalui persaudaraan, saling menghormati, dan semangat mendamaikan.
Dalam pandangan saya, banyak warga Nahdlatul Ulama menaruh harapan kepada Gus Gudfan Arif Ghofur. Harapan itu tumbuh karena nilai-nilai yang melekat pada dirinya, yakni kesederhanaan, kemampuan merangkul berbagai kalangan, serta konsistensi bekerja demi kemaslahatan jam'iyah. Pandangan ini merupakan bagian dari aspirasi sebagian warga Nahdlatul Ulama dan tidak dimaksudkan mewakili keseluruhan warga.
Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama memerlukan kepemimpinan yang mampu menjadi titik temu antara ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, dan generasi muda. Persatuan akan tumbuh ketika seluruh elemen bergerak dalam semangat pengabdian yang sama.
Sejarah Nahdlatul Ulama memperlihatkan bahwa kebesaran organisasi lahir melalui keikhlasan para pengabdi, penghormatan kepada ulama, serta kekuatan ukhuwah. Warisan para muassis akan tetap terjaga apabila kepemimpinan dijalankan dengan hati yang bersih, menjauhkan diri dari intrik, dan mengarahkan seluruh energi organisasi bagi kemaslahatan umat.
Melalui semangat tersebut, poros tengah dapat menjadi jalan memperkuat PBNU memasuki abad kedua. Kepemimpinan yang teduh, inklusif, beradab, dan berorientasi pada persatuan akan menjaga Nahdlatul Ulama tetap menjadi rumah besar yang menaungi seluruh warganya serta terus menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
***
*) Oleh: M. Nadhim Ardiansyah, Cicit KH. Irfan bin Musa, Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
