![]() |
| Abdur Rozak (Sekretaris Umum PKC PMII Jawa Timur) |
Indonesia sedang berada dalam fase perubahan demografi yang sangat penting. Pada 2045, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 324,05 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 213,18 juta orang berada dalam kelompok usia 15–64 tahun. Komposisi penduduk seperti ini memberikan peluang besar karena sebagian besar masyarakat berada pada usia produktif. Selama ini kondisi tersebut dikenal sebagai bonus demografi.
Akan tetapi, menyebutnya sebagai bonus tidak berarti Indonesia secara otomatis akan mendapatkan keuntungan. Jumlah penduduk usia produktif yang besar hanyalah sebuah peluang yang harus dikelola. Jika mereka memperoleh pendidikan yang baik, kesehatan yang memadai, keterampilan yang relevan, pekerjaan yang layak, serta kesempatan untuk berkembang, jumlah tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan kekuatan sosial yang luar biasa. Sebaliknya, apabila negara gagal menyediakan kesempatan yang cukup, besarnya jumlah penduduk produktif justru berpotensi melahirkan persoalan baru berupa pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, dan keresahan sosial.
Dengan demikian, persoalan utama Indonesia sebenarnya bukan terletak pada seberapa banyak anak muda yang dimiliki, melainkan seberapa serius negara mempersiapkan mereka menjadi manusia yang berkualitas.
Dalam bidang ketenagakerjaan, Indonesia memang memiliki sejumlah alasan untuk optimistis. Berdasarkan Sakernas Agustus 2025, angkatan kerja mencapai sekitar 154 juta orang, sementara penduduk yang bekerja sebanyak 146,54 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun menjadi 4,85 persen. Rata-rata upah buruh meningkat menjadi sekitar Rp3,33 juta per bulan.
Namun, angka pengangguran yang menurun tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat merasa bahwa persoalan pekerjaan telah selesai. Bekerja tidak selalu berarti sejahtera. Seseorang dapat memiliki pekerjaan, tetapi pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan hidup. Seseorang juga dapat bekerja tanpa perlindungan sosial, tanpa kepastian karier, atau bahkan berada pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan dan keterampilannya.
Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar menyediakan pekerjaan sebanyak-banyaknya, tetapi menciptakan pekerjaan yang mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. Industri bernilai tambah, manufaktur, ekonomi digital, pertanian modern, ekonomi kreatif, energi baru, kewirausahaan, serta UMKM produktif harus mendapatkan perhatian serius. Generasi muda membutuhkan ruang untuk bekerja, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk menciptakan pekerjaan.
Di sinilah kualitas sumber daya manusia menjadi sangat menentukan.
Pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai proses memperoleh ijazah. Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, beradaptasi, menciptakan solusi, dan menghadapi perubahan. Data BPS menunjukkan bahwa IPM Indonesia pada 2025 mencapai 75,90. Harapan Lama Sekolah berada pada 13,30 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas baru mencapai 9,07 tahun. Angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan, tetapi juga memperlihatkan bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih panjang.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, tantangan pendidikan bahkan menjadi semakin kompleks. Dunia kerja sedang mengalami perubahan yang cepat. Pekerjaan tertentu dapat mengalami otomatisasi, sementara pekerjaan baru muncul dengan tuntutan keterampilan yang berbeda. Anak muda yang hanya dibekali kemampuan menghafal akan menghadapi dunia yang jauh lebih sulit dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, pendidikan Indonesia harus bergerak dari sekadar mengejar angka kelulusan menuju pembangunan kompetensi. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, literasi digital, penguasaan teknologi, kewirausahaan, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan beradaptasi harus menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Pada saat yang sama, karakter dan nilai kebangsaan tidak boleh kehilangan tempat.
Kampus pun harus berani keluar dari paradigma bahwa keberhasilan pendidikan hanya diukur melalui jumlah lulusan. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus keberanian untuk menciptakan perubahan. Pendidikan vokasi juga harus ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan, bukan dianggap sebagai pilihan kedua.
Persoalan berikutnya adalah ketimpangan. Bonus demografi tidak akan memberikan manfaat maksimal jika kesempatan untuk berkembang hanya tersedia bagi sebagian masyarakat. Gini Ratio Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 0,363, membaik dari 0,375 pada Maret 2025. Sementara itu, pada Maret 2026 persentase penduduk miskin turun menjadi 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.
Penurunan tersebut tentu merupakan perkembangan positif. Namun, jutaan masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan menunjukkan bahwa pembangunan belum selesai. Negara harus memastikan bahwa peluang ekonomi, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan pekerjaan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
Tidak boleh terjadi kondisi ketika anak yang lahir di pusat kota memiliki akses terhadap pendidikan dan teknologi jauh lebih baik dibandingkan anak yang lahir di daerah terpencil. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan karakter geografis dan sosial yang beragam. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus menjangkau desa, wilayah kepulauan, daerah tertinggal, dan berbagai pelosok Nusantara.
Jika tidak, Indonesia akan menghadapi sebuah paradoks: memiliki jumlah anak muda yang besar, tetapi tidak seluruhnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi manusia produktif.
Di sisi lain, Indonesia juga harus menyadari bahwa masa produktif tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Ketika generasi muda hari ini memasuki usia lanjut, struktur penduduk Indonesia akan semakin menua. Bappenas mencatat jumlah penduduk lanjut usia telah mencapai sekitar 34,7 juta orang atau 12,33 persen dari populasi pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 20,31 persen pada 2045.
Fakta ini seharusnya membuat kita melihat bonus demografi dari perspektif yang lebih panjang. Masa produktif bukan hanya kesempatan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga masa untuk membangun fondasi kehidupan ketika masyarakat memasuki usia lanjut.
Generasi produktif hari ini pada akhirnya akan menjadi generasi lansia di masa depan. Mereka membutuhkan sistem kesehatan yang kuat, jaminan sosial, perlindungan ekonomi, dan sistem pensiun yang memadai. Karena itu, keberhasilan memanfaatkan bonus demografi juga harus diukur dari kemampuan Indonesia mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan struktur usia penduduk.
Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Anak-anak yang akan menjadi bagian terbesar dari angkatan kerja pada 2045 sedang tumbuh sekarang. Mereka berada di sekolah, madrasah, pesantren, kampus, ruang-ruang komunitas, dan berbagai lingkungan sosial. Apa yang mereka terima hari ini akan menentukan kualitas masyarakat Indonesia dua dekade mendatang.
Karena itu, pembangunan manusia harus dimulai sejak dini. Persoalan gizi, kesehatan anak, kualitas pendidikan, akses terhadap teknologi, lingkungan keluarga, hingga kesempatan untuk berkembang harus menjadi perhatian bersama. Bonus demografi 2045 sesungguhnya sedang diproduksi hari ini.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan seluruh proses tersebut berjalan. Tetapi negara tidak dapat bekerja sendirian. Dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, pesantren, keluarga, komunitas, dan generasi muda sendiri harus menjadi bagian dari proses tersebut.
Indonesia juga perlu mengubah cara memandang generasi muda. Anak muda jangan hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan atau kelompok yang menunggu pekerjaan. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi subjek pembangunan. Kreativitas, gagasan, inovasi, dan keberanian mereka harus mendapatkan tempat dalam kebijakan publik maupun kehidupan ekonomi.
Jika ruang tersebut dibuka, jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi kekuatan yang luar biasa. Tetapi jika anak muda hanya menjadi penonton dalam pembangunan, bonus demografi akan kehilangan maknanya.
Indonesia Emas bukanlah sekadar persoalan statistik. Indonesia Emas bukan hanya tentang besarnya Produk Domestik Bruto, gedung-gedung tinggi, infrastruktur modern, atau posisi Indonesia dalam daftar ekonomi terbesar dunia. Semua itu penting, tetapi tidak cukup.
Ukuran paling mendasar dari keberhasilan Indonesia pada 2045 adalah kualitas kehidupan rakyatnya. Apakah anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang baik? Apakah generasi mudanya mendapatkan pekerjaan yang layak? Apakah masyarakat desa memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat kota? Apakah teknologi dapat dinikmati secara merata? Apakah ketimpangan semakin mengecil? Apakah masyarakat lanjut usia dapat hidup dengan bermartabat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menyebut Indonesia sebagai negara dengan bonus demografi.
Sebab jumlah manusia yang besar tidak otomatis menghasilkan negara yang besar. Penduduk yang banyak baru akan menjadi kekuatan apabila mereka memiliki kualitas, produktivitas, kesehatan, pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, ancaman terbesar Indonesia bukanlah banyaknya jumlah anak muda. Ancaman terbesar adalah ketika jutaan anak muda hadir tanpa pendidikan yang memadai, tanpa keterampilan yang relevan, tanpa pekerjaan yang layak, dan tanpa kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Indonesia masih memiliki kesempatan untuk mengubah keadaan tersebut. Namun kesempatan itu tidak akan bertahan selamanya. Setiap tahun yang dilewatkan tanpa memperbaiki kualitas pendidikan, memperluas lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, memperkecil ketimpangan, serta memperkuat perlindungan sosial berarti sebagian dari peluang menuju 2045 ikut terlewatkan.
Satu abad Indonesia merdeka seharusnya tidak hanya menjadi perayaan tentang panjangnya perjalanan bangsa. Ia harus menjadi momentum untuk melihat apakah kemerdekaan benar-benar telah menghadirkan kesempatan hidup yang lebih baik bagi seluruh rakyat.
Maka, pekerjaan terbesar Indonesia menuju 2045 bukanlah menunggu datangnya bonus demografi. Pekerjaan terbesar kita adalah memastikan bahwa setiap manusia yang lahir dan tumbuh di negeri ini memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kekuatan bangsa.
Sebab masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah penduduk semata. Masa depan Indonesia ditentukan oleh apa yang mampu dilakukan oleh manusia-manusia yang mengisi negeri ini.
Dan jika Indonesia ingin benar-benar menjadi negara maju pada 2045, maka investasi paling penting yang harus dilakukan sejak sekarang bukan hanya membangun jalan, gedung, kawasan industri, atau infrastruktur digital, melainkan membangun manusia yang mampu menggunakan semuanya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Indonesia Emas pada akhirnya bukan hadiah yang akan datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.
***
*) Oleh: Abdur Rozak (Sekretaris Umum PKC PMII Jawa Timur)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
