HMI Banjarmasin Bahas Kepemimpinan Gen Z dalam Pembangunan Daerah

Dok. Indonara.
Banjarmasin, Indonara - Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin menggelar diskusi santai bertema “Kepemimpinan Gen Z sebagai Infrastruktur Politik dalam Upaya Pembangunan Daerah”. Kegiatan tersebut dalam rangka refleksi Hari Sumpah Pemuda, yang berlangsung di Open Space Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Sabtu (31/10/26).

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah aktivis mahasiswa lintas organisasi sebagai narasumber, yakni Noorhani selaku Ketua PC GMNI Banjarmasin, Bawaihi selaku Ketua PC PMII Banjarmasin, dan Taufiq Anwar selaku Kepala Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Banjarmasin. Kegiatan diawali dengan pengantar materi oleh Netty Herawaty, salah satu dosen di ULM Banjarmasin.

Dalam pengantarnya, Netty Herawaty, mengulas karakteristik kepemimpinan generasi Z yang memiliki tantangan tersendiri di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda perlu membangun kapasitas kepemimpinan melalui penguatan struktur organisasi, termasuk menciptakan kemandirian dalam menjalankan kegiatan tanpa selalu bergantung pada dukungan pendanaan.

Ia juga menekankan pentingnya menempatkan politik sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan publik. Kepemimpinan generasi muda perlu memiliki orientasi pengabdian agar aktivitas politik tidak terjebak pada kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Organisasi harus mampu membangun struktur yang kuat dan mandiri. Kepemimpinan juga harus memiliki orientasi yang jelas, yakni menjadikan politik sebagai ruang perjuangan bagi kepentingan publik,” menjadi salah satu pokok pengantar dosen tersebut.

Sementara itu, Ketua PC GMNI Banjarmasin, Noorhani, menyoroti pentingnya kesiapan personal sebelum seseorang mengambil tanggung jawab kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin perlu memiliki kematangan diri, kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi, dan kesadaran terhadap tanggung jawab yang diemban.

“Menjadi pemimpin harus selesai dengan diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan mengatur organisasi, tetapi bagaimana kehadirannya mampu memberikan dampak bagi masyarakat,” kata Noorhani.

Ia menilai ukuran keberhasilan seorang pemimpin perlu dilihat dari manfaat yang dihasilkan bagi lingkungan sosial. "Kepemimpinan generasi muda harus memiliki keterhubungan langsung dengan persoalan masyarakat," ucapnya.

Pandangan berikutnya disampaikan Ketua PC PMII Banjarmasin, Bawaihi. Ia menguraikan hubungan antara infrastruktur politik dan struktur politik dalam proses pembangunan daerah. Menurutnya, keterlibatan pemuda dalam pembangunan masih perlu diperkuat agar generasi muda memiliki ruang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Bawaihi juga menekankan bahwa peran mahasiswa dalam pembangunan daerah perlu melampaui penyampaian kritik. Kritik harus disertai solusi, rekomendasi, dan tawaran kebijakan yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah.

“Mahasiswa perlu membangun tradisi kritik yang konstruktif. Setiap kritik harus memiliki arah, menawarkan solusi, menyusun rekomendasi, hingga menghadirkan gagasan kebijakan yang dapat menjawab persoalan daerah,” ungkapnya.

Adapun Kepala Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Banjarmasin, Taufiq Anwar, mengangkat persoalan manajemen prioritas dalam kepemimpinan generasi Z. Ia menilai tantangan generasi muda saat ini telah berkembang dari persoalan manajemen waktu menuju kemampuan menentukan prioritas di tengah banyaknya tuntutan dan aktivitas.

“Generasi Z hari ini tidak lagi sekadar berbicara tentang manajemen waktu, tetapi bagaimana mengelola prioritas. Kita perlu memahami hal-hal yang harus didahulukan agar setiap aktivitas memiliki arah dan memberikan hasil,” jelas Taufiq.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen bersama dalam pembangunan daerah. "Pembangunan membutuhkan kolaborasi antarpemuda, organisasi kemahasiswaan, dan berbagai elemen masyarakat agar gagasan yang muncul dapat diterjemahkan menjadi kerja kolektif," tutupnya.