Wisuda Unuja, Ra Hamid Ingatkan Warisan K.H. Zaini Mun’im Harus Terus Hidup

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Dr. K.H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., saat memberikan sambutan di agenda Dies Maulidiyah ke-IX dan Wisuda Universitas Nurul Jadid (Unuja) pada Minggu (25/10/2026) - (Dok: Indonara) 
Probolinggo, Indonara - 
Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Dr. K.H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Dies Maulidiyah ke-IX dan Wisuda Universitas Nurul Jadid (Unuja) bukan sekadar perayaan bertambahnya usia institusi pendidikan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali amanah perjuangan pendiri pesantren, K.H. Zaini Mun’im.

Dalam acara yang digelar di halaman utama Unuja pada Minggu (25/102026), Ra Hamid, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa Unuja tumbuh dari tradisi perjuangan dan cita-cita seorang ulama yang menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun kehidupan umat dan bangsa.

“Universitas Nurul Jadid bukanlah sekadar institusi pendidikan yang kebetulan berada di lingkungan pesantren. Unuja tumbuh dari sebuah tradisi perjuangan, dari cita-cita seorang ulama yang berjuang dalam bidang pendidikan khususnya, sebagai jalan untuk membangun kehidupan umat dan bangsa,” ujar Ra Hamid.

Menurutnya Bupati Bondowoso ini, peringatan Dies Maulidiyah tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk merefleksikan nilai-nilai yang harus dijaga serta arah perjuangan yang hendak dituju oleh Universitas Nurul Jadid sebagai bagian dari tradisi pendidikan pesantren.

Ra Hamid kemudian mengingatkan kembali sosok K.H. Zaini Mun’im sebagai pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang meletakkan dasar pendidikan sekaligus perjuangan sosial. Ia menjelaskan bahwa pendidikan yang diwariskan sang pendiri tidak hanya bertujuan membentuk individu yang berilmu, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat dan nasib rakyat banyak.

“Beliau tidak menghendaki manusia berhenti pada kepentingan dirinya sendiri. Beliau menghendaki setiap orang memiliki kesadaran untuk memikirkan kehidupan masyarakat dan nasib rakyat banyak,” tegasnya.

Ia menilai, amanah perjuangan tersebut menuntut setiap generasi untuk keluar dari pola kehidupan yang hanya berpusat pada kepentingan pribadi. Pendidikan, ekonomi, dan kehidupan personal, menurutnya, tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakat.

Ra Hamid menambahkan, bentuk pengabdian setiap orang dapat berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dan perannya masing-masing. Namun, seluruh bentuk pengabdian itu harus bermuara pada kesediaan untuk mengutamakan kepentingan yang lebih luas daripada kepentingan pribadi yang sempit.

“Amanat itu harus terus hidup dalam pilihan dan tindakan generasi penerusnya, dan menjadi pilihan cara hidup kita,” pesannya.

Melalui momentum Dies Maulidiyah IX dan Wisuda Universitas Nurul Jadid, Ra Hamid mengajak seluruh sivitas akademika dan generasi penerus pesantren untuk tidak menjadikan warisan perjuangan K.H. Zaini Mun’im sebatas kenangan sejarah. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam sikap, keputusan, dan pengabdian nyata bagi masyarakat, umat, dan bangsa.