Dari Pesantren ke Kepemimpinan Santri: Ikhtiar Irzam Abdellah untuk ISKAB Nusantara

Irzam Abdellah, calon Ketua Pengurus Besar Ikatan Santri Kalimantan Barat (PB ISKAB) masa khidmat 2026-2028.

Indonara - Latar belakang pesantren kerap melahirkan sosok-sosok yang memiliki keteguhan nilai, kedalaman spiritual, serta kepekaan sosial. Dalam dinamika organisasi santri hari ini, karakter semacam itu menjadi modal penting untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Irzam Abdellah hadir sebagai representasi generasi santri yang tumbuh dari tradisi pesantren dan bergerak aktif di ruang publik mahasiswa.

Irzam, dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan orientasi kemaslahatan. Sejak pendidikan dasar hingga menengah atas, ia menempuh proses pendidikan di pondok pesantren yang menekankan keseimbangan antara keilmuan, akhlak, dan pengabdian. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan sebagai amanah, serta organisasi sebagai ruang perjuangan nilai.

Perjalanan organisasinya menunjukkan proses kaderisasi yang bertahap dan berkelanjutan. Dimulai dari kepemimpinan santri di pesantren, Irzam kemudian melanjutkan kiprahnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dari tingkat rayon, komisariat, hingga cabang. Setiap jenjang organisasi dijalani dengan fokus pada penguatan kader, tradisi intelektual, serta respons terhadap isu sosial dan kemasyarakatan. Proses panjang ini mencerminkan konsistensi dan kesiapan dalam mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Di sisi akademik, Irzam menempuh pendidikan Sarjana Keperawatan di Universitas Nurul Jadid. Pilihan disiplin ilmu ini memperlihatkan orientasi kemanusiaan yang kuat, sejalan dengan semangat pengabdian santri. Dunia kesehatan mengajarkannya tentang empati, pelayanan publik, serta pentingnya kerja sistematis dan profesional. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam tata kelola organisasi modern.

Dalam konteks Ikatan Santri Kalimantan Barat (ISKAB) Nusantara, tantangan yang dihadapi hari ini menuntut kepemimpinan yang memiliki kejelasan arah, kekuatan ideologis, dan kemampuan manajerial. Organisasi santri memerlukan kaderisasi yang tertata, kemandirian ekonomi sebagai penopang gerakan, serta struktur organisasi yang solid antardaerah. Pengalaman Irzam dalam membangun konsolidasi organisasi di berbagai level menjadi bekal penting untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Sebagai calon Ketua Pengurus Besar ISKAB Nusantara masa khidmat 2026-2028, Irzam menawarkan gagasan tentang penguatan roadmap kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan. Kaderisasi dipandang sebagai jantung organisasi, yang harus dirancang berbasis nilai ideologis dan kompetensi kader. Di samping itu, pengembangan ekonomi kreatif berbasis kader menjadi langkah strategis untuk mendorong kemandirian organisasi dan keberlanjutan program.

Transformasi digital juga menjadi perhatian penting dalam gagasan kepemimpinannya. Di tengah perubahan sosial yang cepat, organisasi santri perlu adaptif, terbuka, dan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana penguatan jaringan, komunikasi, serta kerja-kerja pengabdian. Penataan struktur dan tata kelola organisasi secara efektif dan akuntabel diproyeksikan sebagai fondasi agar ISKAB mampu bergerak lebih terarah.

Irzam Abdellah mencerminkan wajah santri yang berproses, belajar, dan bertumbuh melalui organisasi. Dengan latar pesantren, pengalaman pergerakan mahasiswa, serta orientasi pengabdian sosial, kehadirannya dalam kontestasi kepemimpinan ISKAB Nusantara menghadirkan harapan akan organisasi santri yang lebih tertata, mandiri, dan kontributif bagi umat, daerah, dan bangsa.