Ahmad Zubaidi: Media Sosial Harus Jadi Ruang Gerakan Aswaja Kopri

Foto bersama peserta Sekolah Aswaja Kopri Unuja dengan narasumber

Probolinggo, Indonara - Pengurus Komisariat Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Universitas Nurul Jadid (KOPRI PMII UNUJA) menggelar Sekolah Aswaja yang bertempat di Kantin Putri Unuja, Senin (05/01/2025). Kegiatan tersebut diikuti kader internal dan eksternal, yakni dari Kopri Komisariat Unzah.

Kegiatan yang bertajuk "Aswaja sebagai tumpuan arah gerak Kader Kopri" ini dihadiri oleh Ahmad Zubaidi, M.Pd, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Ahmad Zubaidi menekankan pentingnya peran kader Kopri untuk terlibat aktif di ruang publik, khususnya melalui pemanfaatan media sosial. Ia mengaku prihatin melihat media sosial yang menurutnya masih sebatas menjadi ruang informasi, tanpa disertai kritik yang mampu melahirkan gerakan.

“Di beranda media sosial yang sering muncul di hadapan saya hanya sebatas informasi. Sekarang ini bahkan isinya tentang ‘Valen’ semua, tidak ada tentang PMII. Artinya apa? Kita belum mampu membangun branding PMII dalam sebuah gerakan,” ujar Bang Edi sapaan akrabnya sembari memperlihatkan algoritma media sosialnya.

Menurutnya, kader Kopri tidak cukup hanya berbicara tentang nilai tasammuh dan tawasuth, tetapi juga dituntut mampu menghadirkan gerakan nyata yang berdampak. Ia menegaskan bahwa kegiatan Sekolah Aswaja yang dilaksanakan oleh Kopri Unuja harus memiliki tujuan dan hasil yang jelas.

“Kegiatan ini harus melahirkan perubahan. Minimal tumbuhnya pikiran kritis dan diskusi antar kader tentang arah ke depan. Jika tidak, maka kegiatan ini hanya membuktikan bahwa PMII Unuja itu ada, tetapi tidak memiliki dampak,” tegasnya.

Bang Edi menjelaskan, gerakan yang berdampak akan melahirkan kader dengan nilai jual, wawasan, serta talenta yang mampu menjadi ikon dan memiliki daya saing. Ia mencontohkan salah satu senior PMII Unuja sebagai representasi kader yang berhasil menjadi figur gerakan.

“Seperti Cak Huda (red; Dr. Nurul Huda, M.Fil.I - Penulis buku Melampaui Warna Kulit: Jejak-jejak Teologi Anti-Rasisme dalam Kristen dan Islam untuk Indonesia), beliau adalah kader PMII yang mampu menjadi ikon,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kemampuan kader dalam memanfaatkan handphone, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Menurutnya, ketidakmampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi justru dapat melemahkan arah gerak kader dan pergerakan Aswaja itu sendiri.

“Kita harus sadar, antara tatap wajah dan tatap layar, hari ini lebih banyak tatap layar. Padahal handphone hanyalah alat bantu komunikasi, bukan setan yang selalu membersamai kita. Ini adalah fenomena sosial yang menunjukkan bagaimana cara berpikir kita bisa terjajah,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan KOPRI tidak boleh berhenti pada pemenuhan konten media sosial semata, tetapi harus mampu melahirkan respons yang berdampak dalam bentuk tindakan nyata.

“Adakan kegiatan bukan hanya untuk mengisi ruang kosong di Instagram, tetapi harus mampu membangun gerakan intelektual, seperti kritik. Namun, ketika mengkritik, kader juga harus mampu menyerupai apa yang dikritik dalam praktik gerakan. Secara mental, harus menang,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Bang Edi berharap seluruh kegiatan Kopri PMII Unuja ke depan benar-benar mampu menghadirkan dampak nyata bagi kader dan organisasi. Jika tidak, kegiatan tersebut hanya akan menjadi penanda eksistensi tanpa makna. Ia juga berpesan agar Kopri dapat menjadi jembatan bagi kader dalam membangun masa depan dan karier mereka.