![]() |
| Windi Astutik (Guru Pendidikan Anak Usia Dini) |
Pemandangan anak kecil yang asyik menatap layar gawai kini menjadi hal yang lumrah di berbagai ruang publik. Di rumah, di restoran, bahkan di sekolah, layar sering kali menjadi teman setia anak-anak. Gadget kerap diberikan dengan alasan praktis: agar anak tenang, tidak rewel, dan mudah diarahkan. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi persoalan serius tentang masa depan generasi yang sedang tumbuh. Ketika layar mengambil alih ruang bermain dan interaksi anak, masa depan mereka sesungguhnya sedang dipertaruhkan.
Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Gadget dapat menjadi sarana belajar yang menarik, memperluas pengetahuan, dan merangsang kreativitas anak bila digunakan secara tepat. Namun, persoalan muncul ketika layar hadir tanpa batas dan tanpa pendampingan. Anak usia dini berada pada fase emas perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Pada fase inilah interaksi langsung, bermain aktif, dan komunikasi nyata sangat dibutuhkan. Ketergantungan berlebihan pada layar justru berpotensi menghambat proses perkembangan tersebut.
Berbagai fenomena menunjukkan dampak nyata dari paparan gadget yang berlebihan. Banyak anak mengalami keterlambatan bicara, kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, dan kurang mampu berinteraksi sosial. Anak menjadi pasif, terbiasa menerima stimulasi instan, dan kurang terlatih mengelola emosi. Layar menyajikan dunia yang serba cepat dan penuh rangsangan, sementara kehidupan nyata menuntut kesabaran, empati, dan kemampuan beradaptasi keterampilan yang tidak bisa dipelajari dari layar semata.
Lebih jauh, gadget juga berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Konten digital yang tidak sesuai usia dapat membentuk pola pikir dan perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai sosial dan budaya. Anak cenderung meniru apa yang dilihatnya di layar tanpa kemampuan menyaring secara kritis. Ketika peran orang tua dan lingkungan tergantikan oleh algoritma digital, anak kehilangan figur teladan yang seharusnya membimbingnya secara langsung.
Ironisnya, ketergantungan anak pada layar sering kali berakar dari pola asuh orang dewasa. Kesibukan orang tua, tuntutan pekerjaan, dan gaya hidup serba cepat mendorong gadget dijadikan “pengasuh instan”. Padahal, kehadiran orang tua baik secara fisik maupun emosional—merupakan kebutuhan utama anak. Tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan sentuhan, dialog, dan perhatian yang tulus dari orang tua.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko jangka panjangnya sangat mengkhawatirkan. Anak-anak yang tumbuh dengan interaksi sosial minim berpotensi mengalami kesulitan membangun relasi, rendahnya empati, serta lemahnya daya juang. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Generasi yang cerdas secara digital, tetapi rapuh secara emosional dan sosial, akan menghadapi tantangan besar dalam kehidupan bermasyarakat.
Menghadapi realitas ini, diperlukan kesadaran bersama untuk menempatkan teknologi secara bijak dalam kehidupan anak. Orang tua perlu menetapkan batas waktu penggunaan gadget, memilih konten yang sesuai usia, dan yang terpenting, mendampingi anak saat berinteraksi dengan layar. Sekolah dan lembaga pendidikan juga perlu menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, permainan, dan interaksi sosial, bukan sekadar ketergantungan pada perangkat digital.
Selain itu, anak perlu diberi ruang untuk bermain di dunia nyata berlari, berbicara, berimajinasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari situlah mereka belajar mengenal diri, orang lain, dan kehidupan. Layar boleh hadir sebagai alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan peran manusia dalam proses tumbuh kembang anak.
Pada akhirnya, anak bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan amanah masa depan. Cara kita mengelola hubungan anak dengan layar hari ini akan menentukan wajah masyarakat di masa depan. Jika kita lalai, yang dipertaruhkan bukan hanya perkembangan individu anak, tetapi juga kualitas generasi penerus bangsa. Anak, layar, dan masa depan memiliki keterkaitan yang erat dan tanggung jawab untuk menjaganya ada di tangan kita semua.
***
*) Oleh: Windi Astutik (Guru Pendidikan Anak Usia Dini)
*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
