![]() |
| Lukman Sholeh - Praktisi Pendidikan |
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan sosial. Internet dan media sosial bukan lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan ruang baru tempat masyarakat membangun identitas, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi. Dalam proses ini, masyarakat mengalami pergeseran peran: dari warga yang aktif dalam ruang sosial nyata menjadi warganet yang hidup dan bergerak di ruang virtual. Perubahan ini membawa kemudahan sekaligus tantangan yang tidak kecil bagi kehidupan bersama.
Dahulu, kehidupan warga ditandai oleh interaksi langsung. Musyawarah dilakukan di balai desa, solidaritas dibangun melalui gotong royong, dan masalah sosial diselesaikan lewat dialog tatap muka. Kini, banyak aktivitas tersebut berpindah ke layar ponsel. Diskusi publik berlangsung di kolom komentar, solidaritas diwujudkan melalui unggahan dan tanda suka, sementara konflik sering kali meledak dalam bentuk perdebatan digital. Ruang sosial nyata semakin menyempit, digantikan oleh ruang maya yang serba cepat dan instan.
Perubahan dari warga ke warganet membawa dampak positif. Akses informasi menjadi lebih luas, partisipasi publik meningkat, dan suara masyarakat yang sebelumnya terpinggirkan kini dapat terdengar. Media sosial memungkinkan warga mengawasi kebijakan publik, menyuarakan keadilan, serta membangun jejaring sosial lintas batas. Dalam konteks ini, dunia digital membuka peluang demokratisasi yang sebelumnya sulit terwujud.
Namun, transformasi ini juga menghadirkan problem serius. Di ruang maya, identitas kewargaan sering kali tereduksi menjadi identitas digital yang dangkal. Etika berdiskusi melemah, ujaran kebencian mudah tersebar, dan hoaks cepat dipercaya. Anonimitas dan jarak sosial di dunia maya kerap membuat orang lebih berani menyerang daripada berdialog. Akibatnya, ruang publik digital yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan justru berubah menjadi arena konflik tanpa ujung.
Pergeseran ini juga memengaruhi pola hidup masyarakat sehari-hari. Banyak orang lebih aktif berkomentar di media sosial daripada terlibat langsung dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Kepedulian terhadap persoalan sekitar melemah karena perhatian tersedot pada isu-isu viral yang belum tentu relevan dengan kehidupan nyata. Masyarakat tampak terhubung secara digital, tetapi terpisah secara sosial dan emosional.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan ini. Mereka tumbuh sebagai warganet sejak dini, terbiasa dengan interaksi virtual, dan membangun identitas melalui media sosial. Di satu sisi, mereka lebih terbuka dan kritis. Namun di sisi lain, mereka juga rentan terhadap tekanan sosial digital, krisis kepercayaan diri, serta kelelahan mental akibat tuntutan eksistensi di dunia maya. Kehidupan sosial yang serba cepat membuat ruang refleksi semakin sempit.
Fenomena dari warga ke warganet menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan kekuatan yang membentuk cara berpikir dan bertindak masyarakat. Oleh karena itu, tantangan utama bukan menolak teknologi, melainkan mengelolanya secara bijak. Literasi digital yang menekankan etika, tanggung jawab, dan empati menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, berkomunikasi secara santun, dan menempatkan dunia maya sebagai pelengkap, bukan pengganti kehidupan nyata.
Pada akhirnya, menjadi warganet tidak boleh menghilangkan jati diri sebagai warga. Kehidupan sosial yang sehat membutuhkan kehadiran nyata, dialog langsung, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dunia maya dapat memperluas ruang partisipasi, tetapi kehidupan bermasyarakat tetap harus berpijak pada nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Jika tidak, kita berisiko menjadi masyarakat yang ramai di dunia digital, tetapi hampa dalam kehidupan nyata. Dari warga ke warganet seharusnya bukan pergeseran nilai, melainkan transformasi cara berpartisipasi yang tetap menjunjung kemanusiaan.
***
*) Oleh: Lukman Sholeh (Praktisi Pendidikan)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
