![]() |
| KH Muhammad Al-Fayyadl - Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton. |
Probolinggo, Indonara – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, KH Muhammad Al-Fayyadl atau yang akrab disapa Gus Fayyadl, menyampaikan pesan reflektif tentang relasi agama, ekonomi, dan politik melalui story WhatsApp pribadinya, Rabu (7/1/2026).
Mengenai hal itu, Gus Fayyadl menegaskan bahwa misi agama di tengah umat belum akan benar-benar tegak secara kaffah selama persoalan ekonomi dan politik belum diselesaikan secara mendasar.
“Selama masih belum benar-benar selesai dengan ekonomi (urusan harta) dan politik (urusan kekuasaan), maka misi agama ditengah umat belum benar-benar tegak kaffah,” jelasnya.
Menurutnya, ketenangan dalam beragama tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang cukup serta sikap yang tidak tergiur oleh kekuasaan. Ia menilai, ujian harta dan jabatan menjadi fase penting sebelum seseorang benar-benar memasuki ruang keberagamaan yang matang.
“Orang baru bisa tenang beribadah ketika sudah lulus ujian harta dan kekuasaan. Disitulah awal beragama sejati. Maka, syarat beragama dengan baik adalah berkecukupan dalam ekonomi dan tidak tergiur dengan kekuasaan,” terangnya.
Gus Fayyadl juga menyoroti realitas sosial yang dihadapi sebagian besar umat saat ini. Ia melihat banyak masyarakat yang masih tercekik persoalan ekonomi, sementara di sisi lain terdapat kelompok kecil yang justru terobsesi pada kekuasaan.
“Banyak umat dibawah megap-megap dengan hutang dan riba. Belum berkecukupan ekonomi. Disisi lain, segelintir orang sibuk berpikir 24 jam tentang kekuasaan,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, ia mempertanyakan sejauh mana kenyamanan beragama dapat dirasakan di tengah kondisi sosial yang timpang. Menurutnya, tanggung jawab ulama tidak hanya terbatas pada syiar keilmuan dan dakwah normatif, tetapi juga menyentuh persoalan riil umat, khususnya ekonomi dan politik.
“Dimanakah kenyamanan beragama di negeri seperti ini? masih jauh. Tugas ulama adalah membereskan secara riil ekonomi dan politik umat, selain melestarikan cahaya ilmu melalui syiar dakwah ke dalam relung kesadaran,” tulisnya.
Menutup pesan di story WA-nya, Gus Fayyadl mengingatkan bahwa keterikatan pada uang dan jabatan menjadi tanda seseorang belum sepenuhnya selesai dengan urusan dunia, sehingga belum total menghadapkan diri kepada Tuhan.
“Selama uang dan jabatan masih terasa ‘hangat’ ditanganmu, berarti engkau belum selesai dengan dunia. Dan belum benar-benar menghadapkan diri hanyut diharibaan Rabb-Mu,” pungkasnya.
Pesan Gus Fayyadl tersebut menuai perhatian luas di kalangan warganet dan aktivis keagamaan, terutama karena disampaikan secara lugas dan kontekstual terhadap realitas sosial umat hari ini.
