Kopri PMII AMIK Taruna Gelar Sekolah Islam Gender, Dorong Kesadaran Kritis Mahasiswa di Ruang Akademik dan Digital

Foto bersama dalam kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG) Kopri PMII AMIK Taruna Probolinggo. [Dok: Istimewa]

Probolinggo, Indonara - Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) PMII Komisariat AMIK Taruna Probolinggo menyelenggarakan Sekolah Islam Gender (SIG) dengan tema “Islam, Gender, dan Teknologi: Membangun Kesadaran Kritis Mahasiswa di Ruang Akademik dan Digital”. Kegiatan tersebut digelar di Wisma Ucik Sukapura, Sabtu (10/01/26).

Kegiatan ini turut dihadiri senior Kopri PMII Probolinggo, Siti Romlah, Wakil Direktur III AMIK Taruna Probolinggo, Dwi Yanto, Ketua PC PMII Probolinggo, Dedi Bayu Angga, Ketua Komisariat PMII AMIK Taruna Probolinggo, Mu’tasim Billah, Ketua Kopri PMII AMIK Taruna Probolinggo, Maulidia Putri. kader PMII se-Probolinggo serta kader PMII dari Lumajang.

Dalam sambutannya, Siti Romlah menekankan bahwa proses pengembangan diri merupakan tanggung jawab setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia menilai ruang kaderisasi seperti SIG memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran kritis, kepekaan sosial, serta peningkatan kapasitas diri.

“Berproses itu tidak harus menjadi mahasiswa, tapi kita menjadi manusia selalu tetap berproses dan meng-upgrade skill yang kita punya dalam diri kita. Berproses memperbaiki dan meng-upgrade diri kita, jangan sampai berhenti,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa diskursus gender tidak hanya menjadi ruang belajar perempuan, tetapi juga perlu dipahami bersama oleh seluruh kader PMII agar terbangun cara pandang yang seimbang.

“SIG ini tidak harus perempuan, laki-laki juga bisa ikut kegiatannya agar satu pemikiran, baik laki-laki maupun perempuan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Direktur III AMIK Taruna Probolinggo, Dwi Yanto, menekankan pentingnya keberanian dan empati sebagai karakter dasar mahasiswa yang memiliki orientasi perjuangan sosial. Menurutnya, intelektualitas harus dibarengi dengan keberanian bersikap dan kepekaan terhadap realitas masyarakat.

“Menjadi seorang pejuang itu harus berani, masa iya pejuang tidak berani. Selain itu, harus mempunyai empati yang tinggi,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah harus diwujudkan dalam tindakan nyata, serta mahasiswa dituntut memiliki peran aktif di tengah masyarakat.

“Ilmu kalau hanya diserap dan tidak diimplementasikan, ya percuma. Mahasiswi yang ada di kampus AMIK harus mempunyai peran, karena yang dibutuhkan dalam masyarakat itu kebanyakan soft skill,” tambahnya.

Ketua Kopri PMII AMIK Taruna Probolinggo, Maulidia Putri, menjelaskan bahwa SIG dihadirkan sebagai ruang edukasi dan refleksi atas realitas sosial yang masih dihadapi perempuan. Ia menilai stigma yang berkembang di masyarakat perlu dikritisi melalui pendekatan keislaman, keilmuan, dan teknologi.

“SIG ini menjadi kegiatan pencerahan bagi kita, karena selama ini stigma yang masih melekat di masyarakat Indonesia menempatkan perempuan pada peran dapur, sumur, dan kasur,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan ini mampu memperkuat kesadaran kader Kopri dalam memahami relasi gender secara adil dan berimbang, sekaligus mendorong keberanian bersuara di ruang akademik maupun ruang digital.

Ketua Komisariat PMII AMIK Taruna Probolinggo, Mu’tasim Billah, menyampaikan bahwa SIG tidak berhenti pada forum diskusi semata, melainkan akan dilanjutkan dengan langkah konkret pasca kegiatan.

“Pasca kegiatan ini akan ada rencana tindak lanjut bagi peserta yang telah mengikuti kegiatan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PC PMII Probolinggo, Dedi Bayu Angga, menegaskan bahwa setiap kegiatan kaderisasi harus memiliki arah gerakan yang jelas dan berdampak. Ia mengingatkan agar forum-forum diskusi mampu melahirkan kesadaran praksis di kalangan kader.

“Dalam kegiatan seperti ini jangan hanya sekadar berkumpul, tapi harus ada gerakan yang jelas. Laki-laki dan perempuan harus berjalan seiringan,” jelasnya.

Ia berharap peserta SIG mampu memahami perbedaan peran dan pengalaman, sekaligus menemukan titik temu dalam memperjuangkan nilai keadilan dan kemanusiaan. Selain itu, mampu memperkuat kesadaran kader Kopri dalam memahami relasi gender secara adil dan berimbang, sekaligus mendorong keberanian bersuara di ruang akademik maupun ruang digital.

“Harapan saya, para peserta yang mengikuti kegiatan ini mampu memahami perbedaan tersebut dan menemukan titik yang sama antara laki-laki dan perempuan,” pungkasnya.