![]() |
| Foto bersama para Santri Kalimantar saat Muktamar ke-IX di Malang |
Malang, Indonara - Muktamar ke-IX Ikatan Santri Kalimantan Barat (ISKAB) resmi ditutup setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan khidmat. Selain menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi, muktamar ini juga dipandang sebagai momentum penting dalam proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan santri ISKAB.
Muktamar diikuti oleh perwakilan rayon ISKAB dari berbagai pondok pesantren se-Nusantara, Pengurus Pusat ISKAB, para alumni, serta pembina ISKAB Pusat yang berdomisili di Kabupaten Malang. Kegiatan tersebut digelar di Pondok Pesantren Darun Najah, Malang, pada Senin–Kamis (5–7/1/2025).
Pimpinan sidang, Muhammad Ikhsan, secara resmi membacakan hasil keputusan musyawarah peserta muktamar terkait kepemimpinan organisasi.
“Memutuskan Ustadz Irzam Abdellah sebagai Ketua Umum ISKAB periode 2026–2028,” ujar Ikhsan sembari mengetuk palu sidang.
Keputusan tersebut disambut antusias oleh peserta muktamar. Terpilihnya Irzam dinilai sebagai bagian dari proses regenerasi kepemimpinan santri yang diharapkan mampu melanjutkan estafet perjuangan organisasi secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Usai ditetapkan sebagai ketua umum, Irzam menegaskan pentingnya memperkuat arah gerak organisasi melalui kaderisasi yang sistematis. Menurutnya, ISKAB tidak boleh sekadar menjadi organisasi besar secara struktural, tetapi juga harus matang secara ideologis dan kepemimpinan.
“Sebagai organisasi besar, ide dan gagasan kita juga harus besar. Orientasi gerakan harus jelas, dan kader-kader ISKAB harus disiapkan secara serius agar mampu melanjutkan perjuangan organisasi di masa depan,” ujar Irzam saat ditemui usai muktamar.
Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid itu juga menekankan bahwa kaderisasi merupakan kunci keberlanjutan organisasi. Ia berharap seluruh program ISKAB ke depan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu mencetak kader santri yang berintegritas, visioner, dan berdampak bagi masyarakat.
“Ke depan, ISKAB harus lebih terstruktur, baik dalam sistem kaderisasi, administrasi, maupun kepengurusan. Regenerasi harus berjalan sehat agar kegiatan yang diselenggarakan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberi dampak nyata,” katanya.
