Ketum PKC PMII Jatim Ivan Akiedozawa Serukan Kebangkitan Gerakan dan Penguatan Kaderisasi

 

Ketum PKC PMII Jatim saat memberikan sambutan pasca dikukuhkan oleh PB PMII.

Surabaya, Indonara — Ketua Umum terlantik Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, Mohammad Ivan Akiedozawa, yang akrab disapa Ketum Edo, menegaskan arah baru gerakan organisasi dalam momentum pelantikan pengurus yang digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Sabtu (14/2/2026).

Dalam pidatonya, Ketum Edo menekankan bahwa momentum pelantikan bukan sekadar seremoni struktural, melainkan peneguhan tanggung jawab sejarah organisasi.

“Hari ini bukan sekadar hari pelantikan. Hari ini adalah hari peneguhan arah! Hari ini adalah hari penentuan sikap! Hari ini adalah hari integrasi pergerakan!” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa 65 tahun lalu PMII lahir di Surabaya sebagai respons atas kebutuhan zaman. Karena itu, Surabaya kembali didorong menjadi titik kebangkitan gerakan pada 2026.

Menurut Edo, kaderisasi harus ditempatkan sebagai jantung organisasi. Proses kaderisasi tidak boleh hanya bersifat formalitas, tetapi harus mampu membentuk kualitas intelektual, spiritual, dan kepemimpinan kader agar hadir sebagai problem solver di tengah masyarakat.

“Profesionalitas kaderisasi berarti menghadirkan proses yang terstruktur, berjenjang, dan terukur. Setiap kader harus memiliki peta pengembangan diri yang jelas baik dalam aspek intelektual, kepemimpinan, maupun spiritualitas,” ujarnya.

Selain profesional, kaderisasi juga harus berbasis pendekatan teknokratis dengan memanfaatkan riset, inovasi, literasi digital, serta penguatan kapasitas analisis kebijakan dan manajerial. Semua itu, lanjutnya, tetap berada dalam kerangka penguatan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai manhaj berpikir yang moderat, toleran, dan berkeadaban.

Di sisi lain, PKC PMII Jawa Timur di bawah kepemimpinan Ketum Edo juga menegaskan komitmen terhadap isu-isu kerakyatan, khususnya persoalan agraria dan lingkungan hidup. Ketimpangan penguasaan tanah, konflik sumber daya alam, hingga krisis ekologis disebut sebagai persoalan keadilan sosial yang harus mendapat perhatian serius.

“Di sinilah PMII harus mengambil posisi yang jelas. Kita harus hadir sebagai kekuatan moral, kekuatan intelektual, sekaligus kekuatan advokasi. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika kebijakan publik. PMII harus menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.

Ia menambahkan, menjaga lingkungan bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga panggilan moral dan tanggung jawab kebangsaan demi keberlanjutan pembangunan.

Menghadapi era disrupsi teknologi, PMII juga didorong bertransformasi dalam pola aktivisme. Gerakan tidak cukup hadir di ruang fisik, tetapi juga harus kuat di ruang digital, ruang wacana, dan ruang inovasi. Meski demikian, transformasi tersebut tidak boleh menghilangkan jati diri dan tradisi intelektual organisasi.

Dalam bagian akhir pidatonya, ia mengutip pernyataan tokoh dunia Benazir Bhutto tentang kapal yang diciptakan bukan untuk berlabuh di dermaga, melainkan untuk mengarungi samudra. Analogi itu digunakan untuk menggambarkan peran PMII sebagai organisasi yang harus berani menghadapi gelombang persoalan bangsa.

“PMII tidak lahir untuk gagah-gagahan. PMII lahir untuk merawat Indonesia! PMII lahir untuk menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menjadi rahmat bagi semesta!” serunya.

Dari Jawa Timur, Ketum Edo menegaskan kesiapan PMII menjadi pelopor pembaruan, generasi solusi, serta arsitek masa depan bangsa. Momentum pelantikan di Asrama Haji Sukolilo tersebut diharapkan menjadi titik konsolidasi gerakan dan penguatan kontribusi nyata PMII bagi masyarakat luas.