Meneguhkan Arah Gerakan: Biografi Muhammad Ivan Akiedozawa, Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur

Mohammad Ivan Akiedozawa atau yang akrab disapa Edo saat menyampaikan sambuatn pertamanya pasca dikukuhkannya sebagai Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, 14/2/2026.

Perjalanan kepemimpinan Muhammad Ivan Akiedozawa di tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bukanlah proses yang instan. Ia melalui tahapan panjang—dari pencalonan yang penuh gagasan, kontestasi demokratis yang ketat, hingga akhirnya resmi dilantik sebagai Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur untuk masa khidmat 2025–2027. Perjalanan itu bukan sekadar cerita tentang kemenangan dalam forum, melainkan tentang konsistensi kaderisasi, keberanian membawa gagasan, dan kesiapan memikul tanggung jawab sejarah organisasi.

Pria yang akrab disapa Edo ini tumbuh dalam kultur pergerakan mahasiswa yang kuat. Ia adalah kader PMII Komisariat Sepuluh Nopember ITS Surabaya, tempat ia ditempa secara ideologis dan organisatoris. Di komisariat tersebut, Edo pernah dipercaya sebagai Ketua Bidang II, posisi strategis yang membentuk kemampuan manajerial dan kepemimpinannya sejak dini. Pengalaman di tingkat komisariat menjadi fondasi penting dalam memahami denyut kaderisasi dari akar rumput.

Karier organisasinya berlanjut di tingkat cabang. Di PC PMII Surabaya, Edo mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum. Pada fase ini, ia dikenal sebagai kader progresif yang mendorong modernisasi tata kelola organisasi. Ia menginisiasi penguatan sistem pendataan kader berbasis digital, memperbaiki administrasi, serta memperkuat konsolidasi struktural hingga ke tingkat komisariat. Baginya, organisasi yang besar tidak cukup hanya mengandalkan romantisme sejarah, tetapi harus dibangun dengan manajemen yang rapi, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Di luar dunia aktivisme mahasiswa, Edo juga meniti karier profesional di bidang konsultan dan infrastruktur. Ia mendirikan PT Jappa Nusa Konsultan yang fokus pada perizinan, engineering, dan manajemen proyek. Selain itu, ia membentuk Inisial Research, sebuah lembaga riset independen yang bergerak dalam studi opini publik dan transformasi kebijakan. Latar belakang profesional ini membentuk cara pandangnya yang teknokratis dan berbasis data—pendekatan yang kelak ia tawarkan untuk pembaruan organisasi PMII Jawa Timur.

Momentum penting dalam perjalanan kepemimpinannya dimulai pada 11 Juni 2025. Pada tanggal itu, Edo resmi mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur dalam ajang Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXV. Ia hadir membawa visi besar: “PMII Berkarya, Jawa Timur Berdaya.” Gagasan tersebut menekankan pentingnya transformasi organisasi tanpa meninggalkan nilai dasar kaderisasi. Bagi Edo, PMII harus mampu menjawab tantangan zaman—adaptif terhadap perkembangan teknologi, kuat dalam tradisi intelektual, serta tetap berpihak pada persoalan rakyat.

Dalam momentum Konkoorcab di Bondowoso, ia memaparkan visi yang lebih komprehensif: “PMII Jawa Timur sebagai motor transformasi kader Ahlussunnah wal Jama’ah yang religius, inklusif, adaptif terhadap disrupsi digital, serta pelopor keadilan sosial menuju Indonesia Emas 2045.”

Untuk mewujudkan visi tersebut, Edo merumuskan tujuh misi utama: Gerakan Kaderisasi Aswaja berbasis Revolusi Digital; pemerataan kaderisasi PMII dan gerakan pemuda NU di seluruh Jawa Timur; membangun ekosistem karier dan intelektual berbasis data kader; mendorong kemandirian ekonomi organisasi; menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah; rebranding PMII sebagai gerakan mahasiswa hijau dan peduli lingkungan; serta reformasi kelembagaan menuju tata kelola progresif dan transparan.

Dengan pengalaman sebagai penggerak organisasi, pemimpin intelektual, dan profesional muda, ia dinilai sebagai figur ideal untuk membawa PMII Jawa Timur lebih adaptif dan berdaya saing dalam menghadapi era transformasi digital serta menyongsong Indonesia Emas 2045.

Puncak kontestasi berlangsung di GOR Pelita pada awal Agustus 2025. Forum yang mempertemukan para delegasi cabang se-Jawa Timur itu berjalan dinamis dan demokratis. Perdebatan gagasan berlangsung tajam namun tetap dalam koridor etika organisasi. Proses pemilihan berjalan alot hingga larut malam, mencerminkan tingginya antusiasme dan keseriusan kader dalam menentukan arah kepemimpinan.

Dalam pemungutan suara yang berlangsung ketat, Edo akhirnya memperoleh dukungan mayoritas delegasi. Dengan raihan 17 suara dari total 31 hak pilih, ia dinyatakan unggul dan resmi terpilih sebagai Ketua PKC PMII Jawa Timur periode 2025–2027. Kemenangan tersebut dipandang sebagai kemenangan gagasan pembaruan—terutama dalam hal digitalisasi kaderisasi, penguatan basis data anggota, serta perluasan ruang gerak PMII di ranah publik dan wacana digital.

Usai terpilih, Edo bersama tim formatur segera menyusun struktur kepengurusan dan merancang arah strategis dua tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa kepemimpinannya akan menempatkan kaderisasi sebagai jantung gerakan, sekaligus memperkuat posisi PMII sebagai mitra kritis pemerintah daerah dalam isu sosial, pendidikan, agraria, dan lingkungan.

Babak baru kepemimpinannya dikukuhkan secara resmi pada 14 Februari 2026 di Asrama Haji Sukolilo, Kota Surabaya. Ia dilantik oleh jajaran Pengurus Besar PMII (PB PMII). Momentum tersebut menjadi titik konsolidasi gerakan sekaligus penguatan legitimasi kepemimpinan di hadapan kader dan alumni.

Dalam pidato perdananya sebagai Ketua Umum, Edo menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni struktural, melainkan peneguhan tanggung jawab sejarah organisasi.

“Hari ini bukan sekadar hari pelantikan. Hari ini adalah hari peneguhan arah! Hari ini adalah hari penentuan sikap! Hari ini adalah hari integrasi pergerakan!” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa 65 tahun lalu PMII lahir di Surabaya sebagai respons atas kebutuhan zaman, dan kini Surabaya kembali harus menjadi titik kebangkitan gerakan. Menurut Edo, kaderisasi harus ditempatkan sebagai jantung organisasi.

“Profesionalitas kaderisasi berarti menghadirkan proses yang terstruktur, berjenjang, dan terukur. Setiap kader harus memiliki peta pengembangan diri yang jelas baik dalam aspek intelektual, kepemimpinan, maupun spiritualitas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kaderisasi juga harus berbasis pendekatan teknokratis dengan memanfaatkan riset, inovasi, literasi digital, serta penguatan kapasitas analisis kebijakan dan manajerial, tanpa meninggalkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai manhaj berpikir yang moderat dan berkeadaban.

Dalam isu kerakyatan, ia menekankan keberpihakan tegas organisasi untuk terus hadir membawa kebermanfaatan dalam aksi nyata dan memberikan solusi.

“Di sinilah PMII harus mengambil posisi yang jelas. Kita harus hadir sebagai kekuatan moral, kekuatan intelektual, sekaligus kekuatan advokasi. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika kebijakan publik. PMII harus menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.

Menutup pidatonya, dengan ketegasan dan wibawanya, ia menyerukan semangat pengabdian dan konsistensi organisasi PMII.

“PMII tidak lahir untuk gagah-gagahan. PMII lahir untuk merawat Indonesia! PMII lahir untuk menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menjadi rahmat bagi semesta!”

Dari Surabaya, Ketum Edo menegaskan kesiapan PMII Jawa Timur menjadi pelopor pembaruan, generasi solusi, serta arsitek masa depan bangsa. Perjalanan dari keorganisasiannya hingga menjadi nakhoda provinsi mencerminkan proses kaderisasi yang bertahap dan berjenjang. Kini, masa khidmat 2025–2027 menjadi periode pembuktian bagi Muhammad Ivan Akiedozawa untuk menjadikan PMII Jawa Timur bukan hanya besar secara struktur, tetapi juga kuat dalam gagasan dan nyata dalam karya.

Penulis: Abdur Rahmad (Pengurus Bidang Aparatur dan Penataan Organisasi PKC PMII Jawa Timur)