![]() |
| Ahmad Yakub (Alumnus Ponpes Darul Ulum Jombang, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang) |
Apakah puasa hari ini masih dimaknai sebagai ibadah yang menyehatkan, atau justru berubah menjadi ajang mengikuti tren diet yang viral? Pertanyaan ini menjadi relevan ketika lini masa media sosial kita setiap Ramadan dipenuhi konten menu sahur ekstrem, tantangan diet ketat, hingga klaim detoks instan. Di tengah arus informasi yang deras, generasi muda sering kali berada pada posisi rentan: ingin sehat, tetapi tidak selalu mendapat rujukan yang benar.
Ramadan memang tidak lagi hanya berlangsung di masjid dan ruang keluarga. Ia hidup di Instagram, TikTok, dan YouTube. Generasi milenial dan Gen Z mencari referensi kesehatan dari video singkat, thread, atau unggahan influencer. Masalahnya, tidak semua konten tersebut berbasis ilmu kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika algoritma lebih mengutamakan sensasi daripada akurasi, edukasi kesehatan mudah terdistorsi.
Di sinilah peran perawat menjadi sangat penting. Perawat bukan sekadar pelaksana tindakan medis, tetapi juga pendidik kesehatan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Dalam konteks Ramadan di era digital, saya memandang perawat harus berani keluar dari ruang klinik dan masuk ke ruang percakapan publik. Edukasi tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional; ia harus hadir di platform yang digunakan generasi muda.
Penetrasi internet di Indonesia terus meningkat. Laporan terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen populasi telah terhubung ke internet, dengan kelompok usia 15–34 tahun sebagai pengguna paling dominan. Artinya, mayoritas anak muda mengakses informasi kesehatan melalui ruang digital. Media sosial menjadi pintu utama mereka memahami isu gizi, pola makan, dan gaya hidup selama Ramadan.
Namun, tingginya akses informasi tidak selalu diiringi dengan literasi kesehatan yang memadai. Kementerian Kesehatan RI berulang kali menekankan pentingnya literasi kesehatan sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi secara tepat untuk pengambilan keputusan. Tanpa kemampuan ini, generasi muda mudah terjebak pada klaim diet instan, pola puasa ekstrem, atau tantangan kesehatan yang tidak mempertimbangkan kondisi individu.
Fenomena intermittent fasting, misalnya, sering disamakan begitu saja dengan puasa Ramadan. Padahal, konteks religius, pola makan, serta kondisi kesehatan tiap orang berbeda. Tanpa pendampingan tenaga kesehatan, sebagian anak muda mencoba menggabungkan puasa Ramadan dengan diet ketat yang justru berisiko menyebabkan hipoglikemia, dehidrasi, gangguan lambung, atau kelelahan berlebihan.
Menurut saya, persoalan terbesar bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada banjirnya informasi tanpa kurasi. Generasi muda tidak kekurangan konten, tetapi kekurangan rujukan yang otoritatif. Di sinilah perawat dapat mengambil peran strategis sebagai penyaring sekaligus penyampai pesan kesehatan yang akurat dan kontekstual.
Puasa Ramadan pada dasarnya mengajarkan moderasi. Prinsip tidak berlebihan saat berbuka, menjaga sahur, serta mengatur waktu istirahat selaras dengan konsep gizi seimbang yang selama ini digaungkan pemerintah melalui Pedoman Gizi Seimbang. Dalam pedoman tersebut ditegaskan pentingnya variasi makanan, kecukupan cairan, serta pembatasan gula, garam, dan lemak.
Sayangnya, praktik di lapangan sering kali berbeda. Berbuka puasa kerap diidentikkan dengan konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja dan dewasa muda di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pola makan tinggi gula dan lemak menjadi salah satu faktor penyumbang.
Jika Ramadan justru diisi dengan pola makan yang tidak terkendali, maka esensi kesehatannya hilang. Saya berpendapat bahwa perawat perlu menekankan pesan sederhana namun konsisten: puasa sehat bukan berarti membalas lapar sepanjang hari dengan kalori berlebihan. Sahur yang seimbang dengan karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cukup cairan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren menu viral.
Perawat juga dapat mengingatkan bahwa melewatkan sahur demi menurunkan berat badan adalah praktik yang keliru. Tanpa asupan yang cukup, tubuh lebih mudah lemas, sulit berkonsentrasi, dan berisiko mengalami gangguan metabolik. Edukasi seperti ini harus dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak menggurui, tetapi tetap tegas berbasis ilmu.
Era digital telah mengubah cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan masyarakat. Jika dulu penyuluhan dilakukan di puskesmas atau posyandu, kini edukasi dapat dilakukan melalui video singkat, infografik, atau siaran langsung. Banyak institusi kesehatan mulai memanfaatkan media sosial untuk kampanye kesehatan, termasuk saat Ramadan.
Saya melihat peluang besar di sini. Perawat yang memiliki kompetensi klinis sekaligus kemampuan komunikasi digital dapat menjadi figur rujukan yang kredibel. Konten edukasi tentang tips menjaga hidrasi, mengatur jam tidur, mengenali tanda dehidrasi, hingga panduan olahraga ringan selama puasa bisa disampaikan secara kreatif tanpa kehilangan akurasi ilmiah.
Kehadiran perawat di media sosial juga penting untuk meluruskan misinformasi. Ketika muncul klaim bahwa minuman tertentu dapat “mengganti” kebutuhan air putih selama puasa, perawat dapat memberikan penjelasan berbasis rekomendasi medis. Ketika ada tren olahraga berat menjelang berbuka tanpa persiapan, perawat bisa mengingatkan risiko cedera dan dehidrasi.
Menurut saya, perawat tidak perlu menjadi influencer dalam arti populer, tetapi harus menjadi influencer dalam arti substantif. Otoritas ilmiah yang dikombinasikan dengan empati komunikasi akan membuat pesan lebih dipercaya. Edukasi yang konsisten dan relevan akan membangun kepercayaan publik secara bertahap.
Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbaiki gaya hidup, bukan memperburuknya. Kebiasaan begadang berlebihan, kurang minum, dan pola makan tidak teratur sering dianggap wajar selama puasa. Padahal, jika berlangsung sebulan penuh, dampaknya bisa signifikan terhadap produktivitas dan kesehatan.
Perawat memiliki peran dalam mengingatkan pentingnya tidur cukup dan manajemen energi. Tubuh tetap membutuhkan istirahat yang memadai agar fungsi kognitif dan daya tahan tubuh terjaga. Edukasi ini penting terutama bagi pelajar dan pekerja muda yang tetap menjalani aktivitas padat selama Ramadan.
Saya meyakini bahwa pendekatan yang mengintegrasikan nilai religius dan kesehatan akan lebih efektif. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih disiplin dan keseimbangan. Ketika pesan kesehatan disampaikan sebagai bagian dari ibadah yang utuh, generasi muda akan lebih mudah menerimanya.
Akhirnya, peran perawat dalam edukasi kesehatan Ramadan di era media sosial bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah bisingnya informasi digital, masyarakat memerlukan suara yang tenang, akurat, dan bertanggung jawab. Perawat dapat menjadi suara itu. Dengan pendekatan adaptif, komunikatif, dan berbasis data yang jelas, Ramadan dapat dijalani bukan hanya dengan khusyuk, tetapi juga dengan tubuh yang lebih sehat dan pikiran yang lebih jernih.
***
*) Oleh: Ahmad Yakub (Alumnus Ponpes Darul Ulum Jombang, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id
.webp)