Banjir Berulang di Leces, PC PMII Probolinggo Turun Tangan Bagikan Sahur dan Desak Solusi Permanen

Pengurus PC PMII Probolingo silaturahmi kepada warga terdampak banjir, sembari memberikan bantuan logistik.
Probolinggo, Indonara - Intensitas hujan yang tinggi kembali merendam pemukiman warga di perbatasan Desa Leces dan Desa Tigasan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Menanggapi musibah yang terus berulang ini, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Probolinggo bergerak melakukan aksi kemanusiaan dengan membagikan menu sahur pada Rabu (04/03/26) dini hari.

Banjir yang terjadi kali ini disebut sebagai yang terparah sejak awal tahun 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan, ketinggian air di dalam rumah warga mencapai lutut orang dewasa, sementara di wilayah bagian barat, air dilaporkan mencapai setinggi pinggang.

Ketua PC PMII Probolinggo, Dedi Bayu Angga, menyatakan bahwa aksi pembagian menu sahur ini menyasar keluarga yang rumahnya terpendam, sehingga kesulitan untuk menyiapkan makanan di tengah kondisi darurat.

“Banjir kali ini cukup tinggi, air masuk ke rumah-rumah warga hingga setinggi lutut. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas, termasuk saat menjalankan ibadah puasa. Ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” kata Dedi saat diwawancarai oleh Indonara.

Ia juga menambahkan bahwa banjir di Desa Leces setidaknya sudah terjadi sebanyak empat kali dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Hal ini memicu keprihatinan mahasiswa terhadap tata kelola lingkungan di wilayah tersebut.

Selain itu, salah seorang warga terdampak di perbatasan Desa Leces dan Tigasan, Jefri, mengungkapkan bahwa air mulai masuk ke pemukiman sekitar waktu Maghrib dan mencapai puncaknya setelah ibadah Tarawih. Menurutnya, wilayah tersebut menjadi langganan banjir akibat kiriman air dari arah selatan yang tidak tertampung.

"Disini banjir sering terjadi. Setiap musim hujan, kalau air di selatan sudah tidak tertampung, pasti meluap ke sini,” ucap Jefri kepada Indonara.

Jefri mengungkapkan bahwa adanya bantuan yang ada, yaitu berbentuk logistik yang berupa nasi sahur dan camilan, Ia mewakili warga tetap berharap adanya bantuan dan solusi jangka panjang bukan sekadar bantuan darurat. Jefri mengaku bahwa pihaknya sangat butuh uluran tangan dari pihak pemerintah, supaya banjir bisa teratasi dan tidak terulang.

“Harapan kami kepada pemerintah, tolong bantu solusinya. Kalau bisa, Kepala Desa Leces dan Kepala Desa Tigasan duduk bersama, rembuk mencari jalan keluar bagaimana mengatasi banjir ini,” tegas Jefri.

PC PMII Probolinggo tidak hanya memberikan bantuan pangan, tetapi juga melayangkan kritik kepada pemerintah daerah. Mereka menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan infrastruktur di perbatasan kedua desa tersebut.

“Kami mengajak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Perlu ada evaluasi sistem drainase agar persoalan banjir ini tidak terus berulang setiap tahunnya,” tambah Dedi.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjaga-jaga sembari membersihkan sisa lumpur pascabanjir. Masyarakat berharap adanya pembangunan tanggul permanen atau normalisasi saluran air agar pemukiman mereka tidak lagi menjadi langganan banjir di masa mendatang.