
Dr. KH. Imdad Rabbani, M.Th.I (Wakil Kepala Pesantren I Ponpes Nurul Jadid Paiton)
Probolinggo, Indonara - Wakil Kepala Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Dr. KH Imdad Rabbani, M.Th.I, menjelaskan bahwa dalam beribadah seseorang harus menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Hal ini karena ibadah sejatinya ditujukan hanya kepada-Nya, dan semakin tinggi tingkat ketaatan seseorang, maka semakin besar pula limpahan rahmat yang akan diterima.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Ra Imdad—sapaan akrabnya—dalam pengajian kitab Syarah Al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn Athaillah as-Sakandari. Kegiatan ini berlangsung di Musholla Riyadus Sholihin pada Sabtu (04/04/2026).
Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa ibadah harus benar-benar selaras dengan apa yang Allah kehendaki. Untuk memudahkan pemahaman, beliau memberikan perumpamaan sederhana:
“Ibarat uang jajan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk satu bulan, yang untuk membelanjakannya terserah anaknya untuk dibelanjakan apa, namun hakikatnya harus sesuai dengan keinginan orang tuanya. Jadi apa yang ia belanjakan harus sesuai dengan apa yang diinginkan orang tuanya,” jelasnya.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan agar manusia tidak mencari tujuan selain Allah. Dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan, seseorang tidak akan merasa kehilangan apa pun. Selain itu, beliau juga menasihati agar tidak bersikap egois dalam menjalani kehidupan, karena dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, hidup akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Menurut beliau, puncak dari perjalanan seorang hamba adalah ketika ia mampu merealisasikan hakikat kehambaannya di hadapan Allah. Dalam hal ini, sikap pasrah dan cinta kepada Allah menjadi kunci utama.
“Terserah Allah mau menjadikan kita seperti apa, sebab itu suka-suka Allah, dan kalau kamu cinta sama Allah, Thatbiur Rasul artinya ikuti Rasulnya, ikuti ajarannya, dan perihal apapun yang kalian cari itu sudah ada didalam Al-Qur’an,” tutur beliau.
Tidak hanya dalam aspek ibadah ritual, beliau juga menekankan pentingnya kesungguhan dalam setiap aktivitas, termasuk urusan duniawi. Segala sesuatu yang dilakukan dengan maksimal dan niat yang benar dapat bernilai ibadah di sisi Allah.
“Allah mencintai hamba yang memberikan dan melakukan sesuatu dengan perbuatan yang paling baik, Allah mencintai hambanya yang selalu memaksimalkan suatu pekerjaan,” jelas beliau.
Sebagai penutup, beliau berpesan khusus kepada para santri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Menurutnya, proses belajar di pondok merupakan bagian dari ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah, sementara hasil akhirnya sepenuhnya merupakan kehendak-Nya.
“Jalan untuk menuju cintanya Allah, ridhonya Allah itu banyak namun karena kalian adalah seorang santri, pencari ilmu, maka saya berpesan belajar yang sungguh-sungguh di pondok, karena hal itu adalah ibadah untuk menuju Allah. nanti pulang jadi apa, itu kehendak Allah, yang penting belajar sungguh-sungguh, dawuh beliau.”