Mahasiswa Kritik DPRD Jember soal Anggota Main Game dan Merokok saat RDP

Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) UIN KHAS Jember, Muhammad Oki Mabruri.

Jember, Indonara —
Musyawarah Daerah (Musyda) Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) se-Tapal Kuda di UIN KHAS Jember, Kamis (14/5), diwarnai kritik tajam mahasiswa terhadap etika anggota DPRD Jember. Kritik itu mencuat setelah adanya insiden anggota dewan yang kedapatan bermain game dan merokok saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) berlangsung.

Sorotan tersebut disampaikan langsung Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) UIN KHAS Jember, Muhammad Oki Mabruri, di hadapan delegasi mahasiswa dari berbagai kampus, anggota dewan, hingga unsur Forkopimda yang hadir dalam forum tersebut.

Oki menyinggung kasus anggota Komisi D DPRD Jember, Achmad Syahri As Siddiqi, yang viral usai tertangkap kamera sedang bermain game dan merokok di tengah forum resmi.

Menurutnya, tindakan itu menunjukkan rendahnya penghormatan terhadap ruang aspirasi publik yang seharusnya dijalankan secara serius oleh wakil rakyat.

“Ini potret nyata krisis etika di parlemen daerah. Ketika masyarakat datang membawa aspirasi, justru ada anggota dewan yang sibuk bermain game dan merokok di ruang sidang,” kata Oki dalam sambutannya.

Ia menilai insiden tersebut bukan hanya persoalan individu, tetapi juga mencerminkan menurunnya integritas sebagian anggota legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan dan pelayanan publik.

Dalam forum itu, Oki turut mengkritik pelaksanaan Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dinilai selama ini hanya bersifat formalitas. Ia menyebut mahasiswa sering kali hanya dijadikan pelengkap administrasi tanpa benar-benar dilibatkan dalam pembahasan kebijakan.

“Mahasiswa hadir, duduk, difoto, isi daftar hadir, lalu selesai. Setelah itu perda tetap disahkan tanpa mempertimbangkan masukan publik,” ujarnya.

Ia juga mengutip Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91 Tahun 2020 yang menegaskan bahwa partisipasi publik harus mencakup hak untuk didengarkan, dipertimbangkan, dan mendapatkan penjelasan.

Selain itu, mahasiswa menyoroti lambannya respons Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember terkait insiden tersebut. Menurut Oki, langkah etik justru lebih dulu muncul dari Majelis Kehormatan DPP Gerindra dibanding penanganan internal DPRD Jember sendiri.

Musyda FL2MI se-Tapal Kuda yang pertama kali digelar di bawah tuan rumah SEMA UIN KHAS Jember itu menjadi momentum konsolidasi mahasiswa untuk mengawal etika pejabat publik dan proses legislasi di wilayah Tapal Kuda.

“Kami tidak akan diam ketika forum rakyat justru dipermainkan oleh mereka yang seharusnya mendengarkan aspirasi masyarakat,” kata Oki.