Mengenal Sosok KH. Afifuddin Muhajir

Fatah Yasin Romli, Wakil Ketua  PCNU Situbondo.
Indonara - KH. Afifuddin Muhajir dikenal sebagai ahli fikih dan ushul fiqh dari ujung Timur Jawa. Menurutnya, Syari'ah Islam itu syamil dan sudah final. Karena islam hadir sebagai agama paripurna,  agama yang kafah, dan ajaran-ajarannya telah teruji sepanjang zaman. 

Pandangan-pandanganya sangat moderat, dan konsisten menjaga sanad keilmuannya, dengan tidak meninggalkan literasi akademik kontemporer sebagai komparatifnya. Karenanya dalam istimbat hukumnya sangat holistik dan sejuk. Tidaklah berlebihan produk pemikiran atau fatwanya selalu menjadi rujukan khususnya di kalangan intelektual, akademisi yang berbasis pesantren maupun aktivis Nahdlatul Ulama (NU).

Tokoh ulama yang wira'i, sudah menunjukkan kepakarannya sejak terlibat langsung dalam Muktamar NU ke-27 di Pesantrennya Sukorejo, beliau salah satu arsitek yang turut merumuskan, dan memutuskan tentang khittah NU 1926, dan penerimaan Asas Tunggal Pancasila.

Perspektif sejarah ulama NU selalu identik dengan intelektual dan akhlaknya. Reputasi ini bukan lahir dari ruang hampa atau instan, namun kealiman dan kematangan bernalarnya dengan turasnya, cukup mewakili penilaian beberapa ulama NU yang gelisah akan mengeringnya tradisi intelektual NU.

Kehawatiran ini cukup beralasan, karena diakui atau tidak ulama yang wira'i, konsisten dalam keilmuan serta tidak terseret dengan pusaran kekuasaan sudah mulai berkurang, bahkan semakin langka.

Nah kehadiran Kiai Afif cukup merepresentasikan kehadiran ulama NU yang cakrawala berfikirnya sangat moderat, yang hampir jejak rekam kefakihannya mirip dengan  Allah yarham KH. Sahal Mahfudz.

Kegelisahan akan terjadinya kelangkaan ulama di NU, telah diprediksikan jauh sebelumnya oleh Almarhum Almaghfurlah KHR. As'ad Syamsul Arifin dengan mendirikan Ma'had Aly Sukorejo sebagai lembaga khusus untuk mencetak ulama. Kiai Afifuddin santri kesayangan Kiai As'ad diberi amanah mengampu Ma'had Aly Sukorejo.

Tentu amanah berat yang diemban Kiai Afifuddin, sekaligus menunjukkan bahwa popularitas  keulamaan Kiai Afifuddin produk asli pesantren agar siap tampil  menjawab berbagai problematika serta tantangan masa depan.

"Bagi Kiai As'ad, bahwa NU sudah mendarah daging, kulit, tulang, sumsum, hingga darah beliau, kalau ada yang bertanya, adalah NU." Tentu ke NU an sang mediator berdirinya NU, berbeda dengan kebanyakan kader dan pengurus NU pada umumnya. Karena menurutnya aku ber-NU mendapat bimbingan langsung dari gurunya, yakni Syekh Muhamad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan dan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari Jombang.

Teladan gurunya KHR. As'ad yang terus menginspirasi perjalanan khidmahnya di NU dari kepengurusan level bawah PCNU Situbondo hingga menjabat di Pimpinan Tertinggi (Suriyah PBNU) beberapa periode.

Tak ayal khidmah Kiai Afifuddin di PBNU, kepakarannya dalam fikih dan ushul fiqhnya semakin diperhitungkan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya undangan  sebagai narasumber di berbagai event ilmiah nasional maupun internasional. Kepakarannya, dan masa khidmahnya di NU, serta kontribusi pemikiran sepanjang masa khidmahnya di NU hingga keterlibatannya dalam mengusung fikih peradaban ala NU, adalah bukti konkrit tanggung jawab moral dan kecintaannya pada NU.

Ala kulli hal, bahwa peran dan dedikasinya di Jam'iyah Nahdlatul Ulama, selain mengikuti jejak gurunya, juga bukti loyalitasnya dalam menjaga marwah NU khususnya dalam penguatan ideologi islam Ahlussunnah Waljamaah, sekaligus menjaga, melestarikan serta menumbuh kembangkan khazanah pemikiran NU yang selalu siap memberikan solusi terbaiknya dalam menjawab berbagai soal keakanaan dan kekinian.

Dengan demikian Kiai Afifuddin bukan hanya dikenal ulama pesantren Sukorejo, namun juga ulama representasi NU.

***

*) Oleh:  Fatah Yasin Romli, penulis adalah Wakil Ketua PCNU Situbondo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi indonara.id