![]() |
| Gus Gudfan Arif Ghofur (kanan) dan Gus Yahya Cholil Tsaquf (kiri) |
Dan justru dari keheningan itulah, gelombang dukungan dari lintas generasi dan lintas elemen NU terus bermunculan. Dari kiai sepuh yang hafal sanad keilmuan hingga santri milenial yang fasih berselancar di dunia digital. Dari Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), hingga badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa. Semua bergerak. Bukan atas instruksi. Bukan karena iming-iming jabatan. Tapi karena naluri kebersamaan yang sudah lama tertidur itu kembali tersentak: bahwa NU butuh pemimpin yang merawat, bukan merusak; yang mengayomi, bukan mengklaim.
Rendah Hati di Tengah Gurita Kekuasaan
Di era politik identitas yang cair dan ambisi kekuasaan yang sering kali membabi buta, Gus Gudfan hadir sebagai antitesis. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mendekorasi dirinya dengan atribut keagungan palsu. Di pesantren, ia santri biasa. Di tengah para kiai, ia murid yang mendengar. Di hadapan rakyat kecil, ia bukan siapa-siapa.
Ini bukan basa-basi. Ini jejak yang terekam.
Bandingkan dengan mereka yang haus kekuasaan—yang rela mengorbankan prinsip demi kursi, yang mengubah musyawarah menjadi ajang jual-beli suara, yang menjadikan NU sebagai kendaraan pribadi menuju singgasana. Di sana, Gus Gudfan adalah potret lain. Ia datang bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Bukan untuk dihormati, tapi untuk mengabdi. Bukan untuk didengar, tapi untuk mendengar.
Itu Gus Gudfan. Tidak butuh panggung untuk berbuat. Tidak butuh validasi untuk bergerak.
Mencintai Organisasi, Bukan Gila Panggung
Fenomena yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir adalah menjamurnya figur-figur yang lebih mencintai panggung daripada organisasi. Mereka hadir di setiap acara, berfoto di setiap kesempatan, berpidato di setiap momen. Tapi ketika organisasi sedang sakit, ketika umat sedang resah, ketika pesantren kekurangan, mereka menghilang.
Gus Gudfan adalah kebalikannya.
Ia mencintai NU bukan sebagai panggung pencitraan. Baginya, NU adalah kawah candradimuka tempat ia ditempa sejak muda. Dari bawah. Dari posisi-posisi yang tidak pernah diliput media: Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jatim, hingga penasihat GP Ansor. Posisi-posisi yang tidak pernah memberi sorotan, tapi justru di sanalah pengabdian diukur.
"Gus Gudfan tidak pernah menolak tugas meskipun itu kecil. Beliau mengurus bendahara Pagar Nusa dengan penuh tanggung jawab. Uang masuk dan keluar jelas. Tidak pernah ada cerita dana menguap. Itu langka," ujar salah satu pengurus PBNU yang pernah bekerja langsung dengannya.
Bandingkan dengan mereka yang gila panggung. Yang hadir hanya saat ada kamera. Yang mengelilingi setiap acara besar dengan tim humas dan fotografer pribadi. Yang menjadikan NU sebagai latar belakang branding diri. Gus Gudfan adalah ruang sunyi di antara kebisingan itu. Ia bekerja, lalu pergi. Tanpa atribut, tanpa gebyar.
Fokus Mengurus Umat, Bukan Mengklaim Umat
Salah satu penyakit politik yang paling berbahaya di tubuh organisasi keagamaan adalah klaim sepihak: mengaku mewakili umat, mengaku menjadi suara umat, bahkan mengaku memiliki mandat dari umat. Padahal umat bukanlah objek yang bisa diklaim. Umat adalah subjek yang harus dilayani.
Gus Gudfan tidak pernah mengklaim umat. Ia tidak pernah menyatakan diri sebagai "juru bicara nahdliyin" atau "pemimpin yang dinanti." Ia justru sibuk mengurus persoalan riil umat: ekonomi pesantren, kesejahteraan guru ngaji, pemberdayaan santri.
Di tengah tarik-menarik kepentingan di tubuh PBNU, Gus Gudfan memilih jalan sunyi: bekerja. Mengurus dana, mengawal program, memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk digunakan untuk kepentingan umat, bukan kepentingan pribadi. Dan ketika umat mulai merasakan manfaatnya, dukungan mengalir dengan sendirinya.
Bandingkan dengan mereka yang sibuk mengklaim. Yang setiap saat menyebut "umat NU mendukung saya." Yang memasang spanduk di mana-mana dengan foto diri dan narasi pencitraan. Mereka lupa, umat memiliki mata dan hati. Mereka bisa menilai siapa yang bekerja dan siapa yang hanya berbicara. Siapa yang hadir saat sulit dan siapa yang muncul saat aman. Siapa yang mengurus dan siapa yang mengklaim.
Validasi dari Langit, Bukan dari Manusia
Di era media sosial, validasi menjadi mata uang baru. Semakin banyak like, semakin besar pengaruh. Semakin banyak tagar, semakin populer. Para pemburu validasi berlarian dari satu acara ke acara lain, memastikan nama mereka muncul di setiap linimasa, setiap pemberitaan, setiap deretan komentar.
Gus Gudfan tidak berada di sana. Ia tidak memburu validasi. Ia tidak sibuk mengatur pemberitaan. Ia tidak memiliki tim media yang gencar menyebarluaskan namanya. Bahkan ketika namanya mulai disebut-sebut sebagai calon ketua umum, ia lebih memilih diam dan terus bekerja.
"Beliau tidak pernah minta didorong. Justru kami yang merasa harus mendorong," ungkap Koordinator Santri Indonesia, Gangga Listiawan. "Kami melihat sendiri bagaimana beliau bekerja, bagaimana beliau merendah, bagaimana beliau mengayomi. Dan kami merasa, NU butuh pemimpin seperti itu. Bukan yang sibuk mencari validasi sana-sini."
Umat bisa menilai. Mereka tidak butuh pemimpin yang sibuk membangun citra. Mereka butuh pemimpin yang sibuk membangun desa, pesantren, dan ekonomi umat. Mereka tidak butuh pemimpin yang haus pujian. Mereka butuh pemimpin yang tahan ujian. Mereka tidak butuh pemimpin yang mengklaim cinta. Mereka butuh pemimpin yang membuktikan cinta.
Dan Gus Gudfan, dengan segala kesederhanaannya, adalah jawaban atas kerinduan itu.
Dukungan Lintas Elemen: Bukan Sekadar Simbol
Fenomena yang paling menarik dari munculnya nama Gus Gudfan adalah dukungan yang datang dari berbagai elemen organisasi NU secara organik. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Bukan karena arahan, tapi karena kesadaran kolektif.
Para pengurus wilayah (PWNU) dan pengurus cabang (PCNU) di berbagai daerah, tanpa komando terpusat, mulai menyuarakan nama yang sama. Mereka yang sehari-hari bergumul dengan persoalan riil nahdliyin di tingkat bawah merasa bahwa Gus Gudfan adalah figur yang memahami denyut nadi umat.
Tak ketinggalan, badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa juga menunjukkan geliat dukungan yang signifikan. Ini bukan sekadar dukungan seremonial. Ini adalah pernyataan politik dari generasi muda dan perempuan NU yang selama ini seringkali terpinggirkan dalam perebutan kekuasaan di tingkat pusat. Mereka melihat Gus Gudfan bukan sebagai politikus, tapi sebagai abdi organisasi yang telah membuktikan diri.
Yang paling menarik, dukungan ini hadir tanpa ada tim sukses yang terstruktur dan masif. Ia mengalir seperti air—mencari celah, meresap, dan akhirnya menjadi arus yang sulit dibendung. Ini adalah fenomena langka dalam politik organisasi yang biasanya diwarnai oleh mobilisasi massa terencana.
Poros Tengah: Bukan Perbandingan, Tapi Rekonstruksi
Fenomena Gus Gudfan tidak bisa dibaca sekadar sebagai perbandingan antara satu figur dengan figur lain. Itu terlalu dangkal. Ini bukan soal "Gus Gudfan lebih baik dari si A" atau "Gus Gudfan lebih layak dari si B." Ini adalah sesuatu yang lebih fundamental: ini adalah upaya rekonstruksi NU dari akar yang sudah mulai keropos, untuk dikembalikan ke khittahnya.
Apa khittah NU? Melayani, bukan dilayani. Mengayomi, bukan diayomi. Menjadi rahmat, bukan menjadi tuan.
Dalam perjalanannya, NU pernah memiliki pemimpin-pemimpin yang tidak haus kekuasaan. KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, hingga KH Abdurrahman Wahid. Mereka adalah pemimpin yang lebih sibuk mengurus umat daripada mengurus citra. Mereka adalah pemimpin yang lebih nyaman di tengah rakyat kecil daripada di istana kekuasaan. Mereka adalah pemimpin yang tidak butuh validasi manusia karena mereka yakin dengan panggilan langit.
Gus Gudfan, dalam spiritnya, adalah kelanjutan dari tradisi itu. Ia datang bukan untuk merombak, tapi untuk merawat. Bukan untuk mengganti, tapi untuk menyambung. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memperbaiki.
"Poros tengah bukanlah posisi di antara dua kutub. Poros tengah adalah sebuah kesadaran bahwa NU harus kembali ke jalurnya," demikian ungkap sejumlah pengurus PWNU dan PCNU yang akrab dengan Gus Gudfan. "Gus Gudfan adalah representasi dari poros tengah itu. Beliau tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri. Beliau berada di tengah, bersama umat, bersama pesantren, bersama tradisi."
Rekonstruksi NU dari kejumudan yang mengakar adalah pekerjaan besar. Kejumudan berpikir, kejumudan mengelola, kejumudan merespons zaman. Selama ini NU terlalu sibuk dengan ritual birokrasi dan konsolidasi elite, sementara akar rumput mulai merasakan kehilangan arah. Ekonomi pesantren tersendat. Pendidikan santri tertinggal. Peran sosial NU mulai tergerus.
Gus Gudfan, dengan latar belakangnya sebagai pengusaha dan bendahara, memiliki kapasitas untuk membangun kembali fondasi ekonomi NU. Dengan spiritualitasnya sebagai pengamal tarekat, ia memiliki kemampuan untuk menjaga ruh organisasi. Dengan kerendahan hatinya, ia memiliki modal untuk menyatukan kembali pecahan-pecahan yang selama ini tercecer.
Mengembalikan NU ke Khittahnya
Khittah NU bukanlah dokumen mati yang hanya dikenang dalam seminar-seminar. Khittah NU adalah roh yang harus hidup dalam setiap gerak langkah organisasi. Dan roh itu adalah: ahlussunnah wal jamaah, tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran).
Gus Gudfan, dalam pandangan para pendukungnya, adalah figur yang menghidupkan kembali nilai-nilai itu. Ia moderat tanpa kehilangan pendirian. Ia seimbang tanpa kompromi pada prinsip. Ia toleran tanpa kehilangan identitas. Ia mengajak kebaikan tanpa menggurui. Dan ia mencegah kemungkaran tanpa membenci pelakunya.
"Kami tidak sedang mendorong Gus Gudfan untuk menggantikan siapa pun. Kami sedang mendorong kebangkitan kembali nilai-nilai NU yang sempat redup," tegas para pendukungnya dari berbagai PWNU dan PCNU. "Gus Gudfan adalah simbol dari kebangkitan itu. Bukan karena nama, bukan karena jabatan, tapi karena sikap dan konsistensinya."
Di saat banyak orang berlomba mendekorasi diri dengan atribut kesalehan, Gus Gudfan memilih diam dan bekerja. Di saat banyak orang sibuk mengklaim menjadi pemimpin umat, Gus Gudfan sibuk mengurus persoalan umat. Di saat banyak orang haus akan pengakuan, Gus Gudfan cukup dengan pengakuan dari langit dan dari hati nuraninya sendiri.
Umat Menunggu Bukti, Bukan Janji
Muktamar ke-35 PBNU akan menjadi tonggak sejarah. Di sanalah nasib organisasi terbesar di dunia ini akan ditentukan. Apakah NU akan terus terjebak dalam pusaran politik kekuasaan yang menguras energi, ataukah akan kembali ke khittahnya sebagai pengayom umat dan penjaga tradisi?
Gus Gudfan tidak pernah menyatakan diri secara terbuka. Ia bukan tipe yang berorasi di panggung. Ia bukan tipe yang membuat spanduk di mana-mana. Ia bukan tipe yang mengirim tim sukses ke mana-mana. Tapi justru karena itulah, dukungan dari berbagai PWNU, PCNU, dan banom mengalir. Karena umat tahu, pemimpin sejati tidak perlu meminta mereka akan datang dengan sendirinya.
Ini bukan perbandingan. Ini adalah pilihan. Pilihan antara pemimpin yang bekerja dan pemimpin yang berkampanye. Antara pemimpin yang mengurus dan pemimpin yang mengklaim. Antara pemimpin yang merawat organisasi dan pemimpin yang merawat panggung. Antara pemimpin yang mencari validasi manusia dan pemimpin yang cukup dengan validasi Allah dan hati nurani.
Umat NU sedang menunggu. Mereka lelah dengan janji-janji manis yang tak pernah sampai. Mereka lelah dengan kepemimpinan yang lebih sibuk berfoto daripada bekerja. Mereka lelah dengan elite yang lebih dekat dengan kekuasaan daripada dengan rakyat kecil.
Gus Gudfan hadir bukan dengan janji, tapi dengan bukti. Bukan dengan retorika, tapi dengan kerja. Bukan dengan klaim, tapi dengan pengabdian.
Dan di sanalah, di titik sunyi antara kebisingan politik dan kerinduan umat, poros tengah itu berdiri kokoh, tanpa gembar-gembor, menunggu saatnya NU kembali ke jalur yang benar. Jalur para pendiri. Jalur para kiai sepuh. Jalur yang tidak pernah meninggalkan umat, tidak pernah mengklaim umat, dan tidak pernah menjual umat demi kursi kekuasaan.
Gus Gudfan adalah bagian dari jalan itu. Dan umat, dengan mata dan hatinya, telah mulai melihat.
