Gus Fayyadl Dorong Perumusan Ulang Konsep Ulama dan Adab Menuntut Ilmu di Era AI

Gus Muhammad Al-Fayyadl, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton
Probolinggo, Indonara – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl, mendorong perlunya perumusan ulang konsep ulama, guru, dan pencari ilmu di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, perkembangan AI tidak boleh menggeser posisi ulama sebagai pembimbing yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai dan adab.

Hal itu disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk "Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia" yang diselenggarakan melalui kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).

Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl mengajak peserta merefleksikan posisi ulama di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia menegaskan bahwa AI seharusnya hanya berfungsi sebagai penyedia data dan informasi, bukan menjadi satu-satunya rujukan keilmuan.

"Kita tetap harus mengonsep ulang ulama itu agar ulama hadir dalam kehidupan seorang manusia, tidak sepenuhnya tergantikan oleh AI. Sehingga AI itu tetap hanya sebagai database, sebagai kumpulan ensiklopedia, bukan sebagai satu-satunya referensi keilmuan," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa apabila AI telah menjadi referensi utama dalam memperoleh ilmu, maka hanya tinggal selangkah lagi teknologi tersebut akan memengaruhi pembentukan nilai-nilai kehidupan manusia.

"Kalau AI itu menjadi referensi keilmuan, tinggal satu langkah lagi dia akan menjadi referensi nilai. Kalau sudah nilai, maka siapa yang bisa memberikan input nilai, dia yang akan diikuti. Dan itu sudah terjadi sekarang. Misalnya AI mengajari ini, orang ikut," katanya.

Menurut Gus Fayyadl, ilmu pengetahuan (knowledge) tidak dapat dipisahkan dari nilai (value). Keduanya berpadu dalam sosok ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam akhlak dan kehidupan.

"Jadi buat saya sebenarnya knowledge dan value itu enggak bisa dipisahkan, dan itu ada di dalam sosok ulama," tegasnya.

Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Islam saat ini, yakni kecenderungan memahami ulama hanya sebagai kiai dengan latar belakang pendidikan tertentu. Cara pandang tersebut, menurutnya, perlu diperluas agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

"Problemnya hari ini, kalau ulama diidentikkan dengan kiai yang punya pendidikan segini-gini, ya semakin sulit mencari ulama seperti itu," ujarnya.

Karena itu, Gus Fayyadl mengusulkan agar dilakukan perumusan ulang terhadap sejumlah konsep dasar dalam tradisi keilmuan Islam, mulai dari definisi ahlul ilmi, mu'allim, ulama, alim, hingga muta'allim.

"Kita harus mendefinisikan ulang siapakah itu ahlul ilmi, siapakah itu mu'allim. Kemudian ulama itu siapa, alim itu siapa, dan definisikan juga siapakah itu muta'allim," katanya.

Selain itu, ia menilai sudah saatnya lahir panduan kontemporer mengenai etika hubungan guru dan murid yang relevan dengan perkembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, tradisi keilmuan pesantren perlu menghadirkan pembaruan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan para ulama terdahulu.

"Perlu ada teks yang kontemporer dari Adab al-'Alim wa al-Muta'allim di era AI. Jadi Adab al-'Alim wa al-Muta'allim fi 'Asr az-Zaka' al-Isthina'i. Supaya santri tahu bahwa belajar di era AI pun tetap ada adabnya," jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Fayyadl menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar penguasaan materi. Menurutnya, tanpa adab dan kesadaran, ilmu hanya akan menjadi pengetahuan yang dangkal.

"Kalau pengetahuan hanya diambil materinya, tapi tidak diambil adabnya, yang akan terjadi memang pengetahuan itu dangkal sekali. Karena sebenarnya kalau sekadar ingin tahu itu gampang, tapi mengetahui yang membuat hati kita berubah, kesadaran kita berubah, itu yang penting," tuturnya.

Ia menambahkan, tradisi pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid tidak hanya mengajarkan ilmu (al-'ilm), tetapi juga menanamkan kesadaran (al-wa'yu) sebagai fondasi pembentukan karakter.

"Kalau kami di Nurul Jadid diajarkan bukan sekadar al-'ilm, tetapi juga al-wa'yu. Kesadaran itu lebih penting dari sekadar ilmu. Jadi ini, buat saya, tidak bisa digantikan oleh AI," pungkasnya.