Gus Fayyadl Ingatkan Ancaman Peradaban Posthuman terhadap Peran Manusia

Gus Muhammad Al-Fayyadl, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo
Probolinggo, Indonara– Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak lagi sekadar menghadirkan kemudahan bagi manusia, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap arah peradaban. Menurutnya, dunia pendidikan, termasuk pesantren, perlu bersiap menghadapi era ketika teknologi semakin mendominasi berbagai aspek kehidupan.

Hal itu disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk "Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia" yang diselenggarakan melalui kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).

Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menilai perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan mulai mempenetrasi kehidupan manusia tanpa diiringi kesiapan yang memadai dalam mengantisipasi dampaknya.

"Memang menyikapi situasi teknologi yang mulai mempenetrasi tanpa kita antisipasi dengan baik," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi di Barat kini telah memasuki fase yang dikenal sebagai posthuman, yakni sebuah gagasan yang berupaya menjadikan teknologi mampu mengambil alih berbagai fungsi yang selama ini dijalankan manusia.

"Di Barat, sebagai peradaban yang melahirkan ini semua sekarang, filosofi teknologi yang dikembangkan itu sudah fasenya posthuman. Artinya, bagaimana agar manusia itu sudah tergantikan," katanya.

Menurut Gus Fayyadl, konsep tersebut tidak lagi sekadar berbicara mengenai kecanggihan alat, melainkan merupakan bagian dari visi peradaban yang ingin memindahkan berbagai kemampuan manusia ke dalam teknologi.

"Ini memang cita-cita peradaban teknologi hari ini yang penting kita eksplisitkan. Memang ingin menggantikan semua corak peradaban manusiawi atau kemanusiaan," tegasnya.

Ia menerangkan, dalam skenario tersebut, pengetahuan yang selama ini menjadi produk manusia diarahkan untuk ditransformasikan ke dalam entitas teknologi. Karena itu, teknologi dikembangkan agar memiliki kemampuan berpikir, kecerdasan, bahkan fungsi yang menyerupai manusia.

"Sekarang hal-hal yang menjadi produk output manusia seperti knowledge atau pengetahuan itu harus sudah ditransformasikan kepada entitas posthuman. Oleh karena itu teknologi harus punya roh, harus punya mind, harus punya intelek, harus punya kecerdasan. Maka teknologi akan menjadi new human, menjadi manusia baru," jelasnya.

Gus Fayyadl menilai perkembangan tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan bagian dari arah pembangunan peradaban global yang didukung oleh investasi besar dari perusahaan-perusahaan teknologi dunia.

"Ini lebih dari yang kita bayangkan. Sebenarnya skenario ini sistematis. Dananya besar. Google, Metaverse itu besar. Ini bukan semata-mata konspirasi, memang ini skenario peradaban," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Menurutnya, seluruh sektor kehidupan, termasuk pesantren, pada akhirnya akan bersentuhan dengan transformasi digital.

"Jadi kita ini sudah tidak bisa menghindar. Ini semua ibarat banjir bandang, semua akan diterapkan. Bahkan pesantren-pesantren salaf sekalipun tinggal menunggu waktu," katanya.

Di akhir pemaparannya, Gus Fayyadl mengingatkan bahwa perkembangan tersebut harus menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan Islam. Ia mengajak seluruh elemen pendidikan NU untuk menyiapkan strategi agar kemajuan teknologi tidak menghilangkan peran manusia, terutama peran ulama sebagai pembimbing umat.

"Jadi sekarang pertanyaannya, ini kalau manusia sudah digantikan, ya ulama enggak ada lagi," pungkasnya.