![]() |
| Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl (Dok: Rahmad/Indonara) |
Hal itu disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU yang diselenggarakan hasil kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).
Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menilai cara pandang masyarakat, termasuk kalangan internal NU, masih banyak dipengaruhi oleh paradigma industrialisasi yang berorientasi pada aspek ekonomi semata.
"Entah kenapa, kok kita itu dalam menilai atau me-review sistem pendidikan NU masih mengikuti arus umum industrialisasi. Paradigma dunia industri yang nota bene kapitalistik itu masih menjadi acuan kita," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan kerap diukur dari sejauh mana seseorang memperoleh pekerjaan, memiliki penghasilan tetap, atau diterima di sebuah perusahaan. Padahal, ukuran tersebut tidak mampu menggambarkan keseluruhan tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
"Artinya, pendidikan itu baru dinilai sukses ketika orang itu bekerja, ketika punya penghasilan tetap atau orang itu diterima di perusahaan. Saya kira pandangan seperti itu justru bisa mereduksi banyak hal yang kaya sebenarnya dari tradisi kita," katanya.
Gus Fayyadl menjelaskan bahwa pendidikan NU memiliki tujuan yang jauh lebih luas dan holistik. Salah satu cita-cita besarnya adalah melahirkan ulama yang mampu membimbing umat, bukan sekadar mencetak tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan industri.
"Nah, sekali lagi kalau kita kembalikan pendidikan kepada tujuan yang lebih holistik, apalagi kita punya tujuan mulia yaitu mencetak ulama, di mana ulama itu bisa dibilang pemimpin dari segala umat. Itu lebih dari tujuan-tujuan jangka pendek yang ada di dunia industri," tegasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengabaikan pentingnya pekerjaan maupun penguatan ekonomi. Menurutnya, kebutuhan terhadap lapangan kerja tetap harus dipenuhi, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan.
"Bukan menafikan bahwa kita memang realistis, kita butuh pekerjaan hari ini, butuh lapangan ekonomi, itu penting. Tapi kalau itu dijadikan satu-satunya output, buat saya sangat mereduksi kekayaan dan khazanah pendidikan kita," jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Fayyadl menyoroti tantangan yang akan dihadapi dunia pada masa depan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, dan berbagai teknologi otomatisasi. Ia menilai perubahan tersebut justru menuntut manusia untuk semakin memperkuat kapasitas intelektual dan spiritualnya.
"Saya kira dunia ke depan, apalagi dengan disrupsi teknologi, dengan adanya AI dan robot, bahkan industri robotika akan berkembang. Di situ kita justru harus makin melek agama, harus semakin menjadi seorang yang alim, seorang yang intelek dengan segala kapasitas yang mungkin dari segala lini," ujarnya.
Menurutnya, teknologi pada akhirnya akan mengambil alih banyak peran manusia dalam menyediakan informasi dan pengetahuan. Karena itu, persaingan pada masa mendatang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya, melainkan perebutan penguasaan pengetahuan.
"Teknologi ke depan akan mengambil alih peran manusia di dalam menyediakan informasi dan pengetahuan. Perang ke depan itu adalah perang pengetahuan. Sehingga bagi saya, siapa yang memegang kendali atas pengetahuan, itulah yang akan menguasai dunia," pungkas Gus Muhammad Al-Fayyadl.
