Probolinggo, Indonara - Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl, menekankan pentingnya membangun kecintaan kepada ulama sebelum mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Menurutnya, mengenal sosok, kepribadian, dan karakter seorang ulama merupakan bagian penting dalam tradisi menuntut ilmu yang diwariskan para ulama salaf.
Hal itu disampaikan dalam acara Dauroh Ilmiyah Bersama Al-Fadhil Al-Mukarrom Al-Habib Muhammad bin Musthafa bin Muhammad As-Segaf di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Jumat (24/07/2026).
Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menjelaskan bahwa ulama merupakan sumber sekaligus pewaris ilmu. Karena itu, hubungan seorang penuntut ilmu dengan ulama tidak cukup hanya melalui karya-karya atau pemikirannya, tetapi juga melalui pengenalan terhadap sosok yang membawa ilmu tersebut.
"Dan bagi kami, mencintai ulama itu sebenarnya lebih penting daripada mencintai ilmunya, teman-teman. Karena ulama itu adalah sumbernya ilmu itu atau wakilnya ilmu itu, maka kita mengenal sosok ulamanya itu lebih penting daripada kita belajar pemikirannya ulama itu terlebih dahulu," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa pada era digital, ilmu pengetahuan dapat diakses dengan mudah melalui berbagai media, termasuk kitab maupun internet. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak boleh membuat seseorang melupakan pentingnya menjalin hubungan dengan para ulama sebagai pembimbing dalam menuntut ilmu.
"Kenapa? Kalau ilmu kita bisa peroleh di Google, bisa peroleh langsung dari kitab. Tapi mengenal atau ta'aruf ilal ulama, ila ahlil ilmi, ini yang sering kita tinggalkan. Sehingga kita merasa kalau saya sudah dapat ilmu, kita tidak tahu ilmu itu melalui siapa," katanya.
Menurut Gus Fayyadl, tradisi para ulama salaf selalu mengedepankan pengenalan terhadap guru sebelum mengambil ilmunya. Seorang murid terlebih dahulu memahami kepribadian, akhlak, dan karakter gurunya, kemudian memohon izin untuk belajar darinya.
"Oleh karena itu, kalau kita melihat satu contoh manhajnya para ulama salaf, mengenal dulu gurunya, mengenal sosoknya, mengenal syakhsiyahnya, personalitasnya, mengenal kepribadiannya, ini lebih penting. Barulah kemudian kita mengunduh, kita ambil ilmunya atau meminta izin untuk mendapatkan ilmunya dari ulama tersebut," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa semangat tersebut juga menjadi alasan dipilihnya tema mengenai "Juhudu Fuqaha' Hadromaut fii Tathowwuri Fiqh Madzhab al-Imam As-Syafi'i radhiyallahuanhu Qadiman wa Hadisan" dalam dauroh tersebut. Menurutnya, mengenal para fuqaha Hadramaut, memahami hubungan keilmuan mereka, serta mengetahui kecenderungan mazhab yang mereka anut merupakan bagian penting dalam membangun tradisi keilmuan yang utuh.
"Oleh karena itu, kenapa di sini judulnya adalah Juhudul Fuqaha Hadramaut? Karena mengenal fuqaha Hadramaut itu penting. Siapa saja mereka, apa saja hubungannya, termasuk juga mungkin kecenderungan-kecenderungan di dalam bermazhabnya," pungkas Gus Muhammad Al-Fayyadl.
