Muhammad Yunus Ajak Publik Melihat Krisis Pendidikan Indonesia secara Objektif

Muhammad Yunus, Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma)
Probolinggo, Indonara – Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma), Muhammad Yunus, mengajak masyarakat untuk melihat kondisi pendidikan Indonesia secara objektif. Menurutnya, meskipun berbagai indikator menunjukkan Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari besarnya tantangan demografis yang dimiliki Indonesia.

Hal itu disampaikan Muhammad Yunus dalam Webinar Nasional Pra Muktamar Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan oleh kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).

Mengawali paparannya, Yunus mengajak peserta merefleksikan cara pandang dalam melihat kondisi bangsa. Menurutnya, persepsi seseorang sering kali memengaruhi cara menyikapi sebuah persoalan.

"Apakah hari ini kita mengalami krisis? Persepsi itu sering kali didukung oleh semesta. Kalau kita mempersepsikan negatif maka hasilnya juga akan negatif. Tapi kalau kita mempersepsikan positif maka hasilnya pun juga akan positif," ujarnya.

Meski demikian, Yunus menegaskan bahwa refleksi tetap perlu dilakukan berdasarkan data yang objektif. Ia mengakui bahwa secara nasional Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, terutama dalam bidang pendidikan.

"Dalam rangka refleksi, kita boleh menjustifikasi bahwa dari data-data yang ada, hari ini secara nasional kita masih tertinggal dengan negara-negara tetangga, misalnya Singapura, Malaysia, atau negara-negara yang lain," katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa perbandingan tersebut harus mempertimbangkan kondisi masing-masing negara secara proporsional. Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks karena memiliki jumlah penduduk yang sangat besar.

Yunus menjelaskan bahwa Singapura hanya memiliki sekitar lima juta penduduk, sedangkan Indonesia dihuni sekitar 270 juta jiwa. Perbedaan skala tersebut, menurutnya, menjadi faktor penting dalam membaca capaian pembangunan, termasuk di sektor pendidikan.

"Singapura itu jumlah penduduknya mungkin hanya sekitar lima juta. Sementara Indonesia jumlah penduduknya 270 juta jiwa," ungkapnya.

Ia juga menyoroti capaian perguruan tinggi Indonesia di tingkat dunia. Menurutnya, universitas-universitas terbaik di Singapura telah menembus jajaran 100 besar dunia, sedangkan perguruan tinggi unggulan Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) masih berada di kisaran peringkat 500 dunia.

Meski demikian, Yunus menilai capaian tersebut harus dipahami dalam konteks besarnya beban pembangunan yang dihadapi Indonesia.

"Saya enggak tahu bagaimana cara menghitungnya, tetapi yang jelas demografi kita begitu luar biasa besarnya, jumlah penduduk kita begitu besarnya," tuturnya.

Karena itu, ia menilai tidak mudah mengelola negara dengan jumlah penduduk mencapai ratusan juta jiwa, terlebih jika sistem tata kelola dan perilaku para pemangku kebijakan belum berjalan secara optimal.

"Memang tidak mudah mengurus 270 juta jiwa itu untuk semua kemudian bisa terentaskan dengan sistem, dengan perilaku pemangku kebijakan yang belum baik-baik saja," pungkasnya.