![]() |
| Dok. Istimewa. |
Probolinggo, Indonara - Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Djoyolelono ke-V resmi dilantik dalam suasana khidmat di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kabupaten Probolinggo, dengan mengusung tema "Reposisi Identitas dalam Ruang Kolektif", pada Sabtu (18/07/26).
Prosesi pelantikan dihadiri oleh jajaran pemerintah Kabupaten Probolinggo, Pengurus Cabang (PC) PMII Probolinggo, tokoh masyarakat, para senior dan alumni PMII, organisasi kepemudaan, akademisi, serta kader PMII dari berbagai rayon dan komisariat se-Probolinggo Raya. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa PMII Djoyolelono terus memperoleh kepercayaan sebagai organisasi mahasiswa yang konsisten melahirkan kader-kader intelektual dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Tema "Reposisi Identitas dalam Ruang Kolektif" dipilih sebagai refleksi atas tantangan zaman yang semakin kompleks. Di tengah perubahan sosial, politik, dan teknologi yang bergerak begitu cepat, PMII dipandang perlu meneguhkan kembali identitasnya sebagai organisasi kader yang tidak hanya menjaga nilai-nilai dasar pergerakan, tetapi juga mampu membangun ruang kolaborasi, melahirkan gagasan, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.
Dalam sambutan, Abdul Ghofur, yang hadir mewakili Bupati Probolinggo, memberikan apresiasi atas terselenggaranya pelantikan tersebut. Ia menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan, khususnya PMII, merupakan mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah.
Menurut Ghofur, pemerintah membutuhkan keterlibatan generasi muda dalam memberikan gagasan, kritik yang konstruktif, serta inovasi untuk memperkuat kualitas pelayanan publik dan pembangunan daerah.
"Jadi, sinergi antara pemerintah dan organisasi kemahasiswaan perlu terus dibangun sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih partisipatif," katanya.
Sementara itu, Ketua PC PMII Probolinggo, Dedi Bayu Angga, menegaskan bahwa karakter utama PMII adalah keberanian menyampaikan kritik yang berbasis pada kepentingan masyarakat. Kemudian, kedekatan organisasi dengan pemerintah tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya independensi maupun daya kritis kader.
Dedi bahkan memberikan ruang seluas-luasnya kepada seluruh komisariat di bawah naungan PC PMII Probolinggo untuk membangun komunikasi langsung dengan pemerintah apabila terdapat persoalan yang harus diperjuangkan.
"Semua komisariat boleh beraudiensi langsung dengan pemerintah. Silakan menyampaikan kritik, gagasan, maupun aspirasi. Namun komunikasi harus dibangun dengan baik, membawa data yang jelas, argumentasi yang kuat, dan tetap menawarkan solusi. PMII harus hadir sebagai mitra kritis, bukan sekadar pengkritik," jelasnya.
Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Djoyolelono, Muhammad Ali, dalam kesempatan yang sama, mengingatkan seluruh kader agar tidak kehilangan sensitivitas sosial. Menurut Ali, kader PMII tidak boleh larut dalam rutinitas organisasi hingga melupakan realitas masyarakat yang menjadi ruh perjuangan PMII sejak awal berdiri.
"Jangan sampai kader PMII terlihat apatis terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar kita. Organisasi ini lahir dari semangat keberpihakan kepada masyarakat. Karena itu, kepekaan sosial harus terus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata," ucapnya.
Senada dengan hal tersebut, Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PK PMII Djoyolelono, Ahmad Khoiruddin, mengajak kepengurusan baru untuk menjaga keberlangsungan organisasi. Sebab, tantangan yang dihadapi organisasi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya, sehingga dibutuhkan komitmen yang kuat dalam merawat kaderisasi dan kesinambungan perjuangan.
"PMII Djoyolelono harus terus berkembang. Jangan sampai perjuangan ini putus di tengah jalan, karena tantangan yang kita hadapi hari ini semakin kompleks. Organisasi hanya akan besar apabila seluruh kader memiliki komitmen untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan," tegasnya.
Menutup rangkaian sambutan, Ketua PK PMII Djoyolelono ke-V yang baru dilantik, Nur Kholis Majid, menyampaikan bahwa amanah kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang paling unggul, melainkan tentang kesiapan melanjutkan estafet perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulu. Selain itu, Kholis, menyampaikan bahwa kepercayaan yang diterimanya merupakan amanah kolektif yang harus dijaga bersama.
"Hari ini saya berdiri di hadapan sahabat-sahabat semua bukan karena saya adalah orang yang paling hebat. Saya hanyalah seorang kader yang dipercaya untuk menjaga api perjuangan yang telah dinyalakan oleh para pendahulu PK PMII Djoyolelono. Api itu tidak boleh padam, karena di sanalah hidup cita-cita, harapan, dan arah perjuangan organisasi," ujarnya.
Mengacu pada tema pelantikan, Kholis, menegaskan bahwa identitas PMII bukan sekadar atribut organisasi, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan melalui kaderisasi, pengabdian, dan keberpihakan kepada masyarakat.
"Hari ini identitas itu harus diperjuangkan dan harus dirawat. Sebab identitas bukan hanya tentang nama atau simbol, melainkan tentang nilai yang kita hidupi, prinsip yang kita perjuangkan, dan keberanian kita untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Ketika identitas kehilangan makna, organisasi hanya akan menjadi nama tanpa arah," pungkasnya.
