Gus Fayyadl: Pendidikan Pesantren Harus Menjembatani Ilmu dengan Praktik Kehidupan

Gus Muhammad Al-Fayyadl, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton (Dok: Indonara)
Probolinggo, Indonara – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl, menegaskan bahwa tantangan terbesar pendidikan Islam saat ini bukan terletak pada metode pembelajaran, melainkan pada bagaimana ilmu yang dipelajari mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata. Menurutnya, pendidikan harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan praksis demi menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk "Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia" yang diselenggarakan oleh kolaborasi Indonara Media dengan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).

Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl mengatakan setiap pesantren memiliki keunggulan masing-masing dalam proses pembelajaran. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika satu model pendidikan dianggap lebih baik daripada yang lain.

"Jadi sekarang itu saya kira kalau soal pembelajaran enggak masalah. Mau pesantren seperti apa pun pasti punya kelebihan," ujarnya.

Ia mencontohkan pengalaman di Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terus bereksperimen mengembangkan berbagai metode pembelajaran. Selain mempertahankan tradisi pembacaan kitab salaf, pesantren juga membuka ruang diskusi hingga kajian filsafat sebagai bagian dari pengayaan intelektual santri.

"Kami di Pondok Pesantren Nurul Jadid juga mengembangkan berbagai bentuk metode, mulai dari baca kitab secara salaf sampai diskusi, bahkan diskusi filsafat juga. Sudah pernah kami coba semua eksperimentasi itu, tetapi memang tidak ada kata memuaskan karena semua adalah bagian dari proses," katanya.

Meski demikian, Gus Fayyadl menilai persoalan utama muncul setelah seseorang menguasai ilmu. Menurutnya, pendidikan sering kali berhenti pada proses memahami pengetahuan tanpa memberikan arah bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan.

"Problemnya itu setelah santri atau kita memahami, lalu mau apa? Di situ rupanya ada keterputusan antara ilmu dan praksis. Nah, ini krisis yang paling besar sebenarnya," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang belum mampu memberikan dampak nyata bagi perubahan sosial. Padahal, menurutnya, kecerdasan seharusnya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Buat saya problemnya adalah bagaimana kecerdasan itu bisa dipakai untuk kemaslahatan. Karena itu kita perlu memiliki parameter terlebih dahulu, kemaslahatan apa yang ingin kita capai," ujarnya.

Sebagai contoh, Gus Fayyadl menyinggung krisis lingkungan yang kini menjadi tantangan global. Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembelajaran tekstual, tetapi memerlukan pengalaman langsung dan pendekatan yang lebih kontekstual.

"Hari ini misalnya kita mengalami krisis lingkungan. Krisis lingkungan itu enggak bisa dijawab kalau kita hanya baca kitab. Apa yang ada di kitab belum tentu langsung nyambung dengan apa yang terjadi. Karena itu dibutuhkan pembelajaran lain, seperti belajar di luar kelas, tadabur alam, dan berbagai pembelajaran tambahan," jelasnya.

Menurut Gus Fayyadl, dunia pendidikan Islam ke depan harus mampu mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dengan realitas kehidupan modern. Ia menilai kemampuan menghubungkan teks dengan konteks menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh lembaga pendidikan, khususnya pesantren.

"Nah, ini yang mungkin menjadi PR kita, mengoneksikan antara yang tekstual dengan yang kontekstual, antara yang ada di dalam teks dengan apa yang ada di tengah masyarakat, bahkan di tengah dunia dan lingkungan hidup kita yang sekarang mengalami banyak persoalan," pungkasnya.