![]() |
| Gus Muhammad Al-Fayyadl, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton (Dok: Indonara) |
Hal itu disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk "Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia" yang diselenggarakan melalui kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).
Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menilai bahwa hingga saat ini masyarakat Indonesia masih menempatkan ulama dan kiai sebagai figur yang memiliki otoritas moral dan keilmuan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
"Saya kira di masyarakat Indonesia hari ini mungkin lebih dari 50 persen masih lebih percaya kepada ulama, kepada kiai. Saya kira itu yang membuat proses pendidikan di NU tidak akan begitu banyak tergoncang oleh dinamika teknologi," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pada konteks pendidikan NU, teknologi masih diposisikan sebagai alat yang mempermudah proses belajar dan memperluas akses informasi. Berbeda dengan sejumlah negara Barat yang, menurutnya, mulai menempatkan teknologi sebagai agen yang menggantikan sebagian fungsi otoritas keilmuan manusia.
"Teknologi masih sebagai tool. Mungkin hanya berfungsi mempermudah kita belajar dan mengakses informasi. Tetapi di Barat itu sudah berubah, tool bisa menjadi agen," katanya.
Gus Fayyadl mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini adalah memulihkan kepercayaan terhadap para pendidik sebagai pemegang otoritas keilmuan. Menurutnya, ketika kepercayaan kepada guru melemah, masyarakat cenderung menjadikan teknologi sebagai rujukan utama.
"Di perguruan tinggi NU saya kira memulihkan trust kepada para pengajar, kepada otoritas keilmuan, itu penting hari ini. Ketika orang sudah tidak percaya kepada manusia yang dianggap kompeten dalam masalah keilmuan, maka orang akan beralih kepada teknologi yang dianggap lebih akurat," jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi juga bukan sumber kebenaran yang mutlak. AI dan berbagai perangkat digital tetap memiliki keterbatasan sehingga persoalan kepercayaan terhadap sumber ilmu tetap menjadi isu mendasar.
"Ketika ditunjukkan bahwa teknologi itu juga hanya alat yang punya kemungkinan tidak akurat, maka lagi-lagi problem trust dalam pengetahuan menjadi penting," tegasnya.
Menurut Gus Fayyadl, hakikat pendidikan tidak hanya terletak pada proses transfer ilmu, tetapi juga pada hubungan yang dibangun antara guru dan murid atas dasar kepercayaan. Relasi tersebut menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
"Saya kira pendidikan itu hakikatnya dibangun di atas trust, di atas kepercayaan akan adanya kebenaran yang disampaikan, baik dari pihak pengajar kepada murid maupun sebaliknya," ujarnya.
Meski optimistis terhadap kekuatan tradisi pendidikan NU, Gus Fayyadl mengingatkan agar kepercayaan masyarakat tidak disalahgunakan. Ia menyoroti berbagai kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pendidik sebagai bentuk manipulasi terhadap kepercayaan yang diberikan oleh peserta didik.
"Kalau kita bisa memberikan kontribusi di ranah itu, bagaimana agar kepercayaan itu tidak dimanipulasi. Peristiwa pelecehan seksual dan macam-macam itu sebenarnya manipulasi atas trust. Santri yang polos kemudian disalahgunakan oleh oknum pengajarnya, ustaznya atau kiai. Itu sangat miris sekali," katanya.
Menutup pemaparannya, Gus Fayyadl menegaskan bahwa memulihkan dan menjaga kepercayaan menjadi tugas penting para pendidik di tengah situasi ketika sikap saling tidak percaya semakin berkembang di masyarakat.
"Trust hari ini sangat penting untuk dipulihkan di zaman ketika justru distrust merajalela. Saya kira itu tugas kita sebagai seorang pendidik," pungkasnya.
