Pulang ke Papua, Ketua PCNU Mamberamo Tengah Bimbing Ratusan Warga Mengenal Islam

PROBOLINGGO, INDONARA.ID — Puluhan tahun menempuh pendidikan dan tinggal di Jakarta tak membuat Abdul Latif Yelipele melupakan tanah kelahirannya di Papua Pegunungan. Setelah memperoleh bekal pendidikan agama di Jakarta, ia memilih kembali ke kampung halaman dan mengabdikan diri melalui dakwah.

Kisah perjalanan Abdul Latif tersebut dikutip dari Nahdliyin.com. Kini, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan.

Jauh sebelum aktif dalam kepengurusan NU, Abdul Latif telah menjalani aktivitas dakwah di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan Islam sekaligus mendampingi masyarakat yang memilih memeluk agama Islam.

“Setelah lulus SD di Wamena, saya sempat sekolah di Al Azhar Kebayoran Lama Jakarta sekitar 1997. Puluhan tahun saya di Jakarta, lalu saya pulang ke kampung halaman,” ujar Abdul Latif di sela-sela Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.

Menurutnya, keputusan kembali ke Papua bukan semata untuk berkumpul bersama keluarga. Ia ingin membawa ilmu yang diperolehnya selama berada di Jakarta untuk kemudian digunakan dalam kegiatan dakwah di daerah asal.

“Saya perlu pindah di sana, karena di sana Islamnya juga minoritas. Saya harus pindah di sana agar mereka bisa memahami Islam,” ucapnya.

Dakwah di Tengah Masyarakat Minoritas Muslim

Dalam menjalankan dakwah, Abdul Latif membangun empat mushala di sejumlah lokasi. Tempat-tempat tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar dan mengenal ajaran Islam.

Dari aktivitas dakwah tersebut, ia memperkirakan telah membimbing lebih dari 300 orang untuk memeluk Islam.

“Sekitar, saya hitung-hitung sekitar 300-an lebih,” ujarnya.

Ia menegaskan, proses membimbing seseorang menjadi Muslim tidak berhenti pada pengucapan dua kalimat syahadat. Para mualaf tetap membutuhkan pendampingan agar dapat memahami ajaran agama dan menjalankan ibadah.

“Saya yang Islamkan, yang bimbing syahadatnya. Ada empat titik mushala yang saya bangun. Baru banyak yang Muslim, saya syahadatkan dari semua,” katanya.

Pendidikan di Jakarta Jadi Bekal Berdakwah

Perjalanan Abdul Latif sebagai dai berawal sejak usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Wamena, ia berangkat ke Jakarta sekitar 1997 untuk melanjutkan pendidikan di Al Azhar Kebayoran Lama.

Pendidikan tersebut dijalani dengan dukungan Dewan Dakwah dan sejumlah pihak yang membantu biaya pendidikannya.

“Alhamdulillah saat itu dibiayai,” katanya.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Jakarta, Abdul Latif membawa bekal pendidikan agamanya kembali ke Papua. Namun, ia menyadari bahwa dakwah di wilayah Pegunungan Papua memiliki tantangan yang berbeda, salah satunya persoalan bahasa.

Tidak semua warga, terutama kalangan lanjut usia yang telah menjadi mualaf, dapat memahami ceramah dalam bahasa Indonesia dengan baik. Kondisi tersebut membuat Abdul Latif memilih menggunakan bahasa daerah ketika menyampaikan materi dakwah.

“Makanya saya dakwah pakai bahasa sana,” ujarnya.

Menurut dia, penguasaan bahasa lokal menjadi salah satu faktor penting agar pesan keagamaan dapat diterima masyarakat. Ia bahkan menilai dakwah akan lebih mudah diterima apabila dilakukan oleh putra daerah yang memahami bahasa sekaligus budaya masyarakat setempat.

“Kalau orang luar tidak bisa bahasa Papua asli, sulit menerima karena terkendala bahasa. Jadi yang berdakwah harus seorang Papua sendiri,” katanya.

Dorong Materi Islam dalam Bahasa Lokal

Dalam perjalanan dakwahnya, Abdul Latif juga pernah mendapat penugasan resmi sebagai dai. Meski pada masa awal honor yang diterimanya hanya sekitar Rp250 ribu, ia tetap menjalankan tugas tersebut. Saat ini, honor tersebut disebut meningkat menjadi sekitar Rp500 ribu dan penugasan sebagai dai masih berjalan.

Pengalaman panjang berdakwah di Papua Pegunungan membuat Abdul Latif melihat kebutuhan terhadap materi keislaman yang menggunakan bahasa-bahasa lokal.

Menurutnya, penerjemahan berbagai materi agama ke dalam bahasa daerah dapat membantu masyarakat memahami Islam secara lebih dekat dengan konteks kehidupan mereka.

“Bahasa Papua belum,” katanya.

Bagi Abdul Latif, dakwah bukan sekadar mendirikan mushala atau mengajak masyarakat mengucapkan syahadat. Lebih dari itu, dakwah berarti hadir bersama masyarakat, memahami bahasa dan budaya mereka, serta memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

Perjalanan Abdul Latif menunjukkan bagaimana ilmu yang diperoleh di luar daerah dapat dibawa pulang untuk memberikan manfaat di tanah kelahiran. Dari seorang anak Papua yang berangkat ke Jakarta selepas sekolah dasar, kini ia mengabdikan diri sebagai dai sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Mamberamo Tengah.

Empat mushala telah dibangun dan lebih dari 300 orang disebut telah dibimbing masuk Islam. Namun bagi Abdul Latif, perjalanan dakwah di Papua Pegunungan masih panjang dan membutuhkan keberlanjutan pendampingan serta penguatan pendidikan keislaman.