Gus Fayyadl Soroti Kekuatan Literasi Tekstual Pesantren Salaf

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl (Dok: Istimewa) 
Probolinggo, Indonara – Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Mudir Ma'had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al-Fayyadl, menilai bahwa dikotomi antara pendidikan pesantren salaf dan perguruan tinggi tidak lagi relevan untuk dipertentangkan. Menurutnya, keduanya memiliki keunggulan masing-masing yang justru saling melengkapi dalam membentuk tradisi keilmuan.

Hal tersebut disampaikan dalam Webinar Nasional Pra Muktamar NU bertajuk "Mencerdaskan Umat, Membangun Peradaban: Pendidikan NU sebagai Jawaban atas Krisis Kualitas SDM Indonesia", yang diselenggarakan melalui kolaborasi Indonara Media dan Lentera Institute pada Rabu (22/7/2026).

Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama pesantren salaf terletak pada tradisi literasi tekstual yang sangat kuat. Para santri dibiasakan membaca dan memahami teks secara teliti hingga pada hal-hal yang paling mendasar.

"Pondok-pondok salaf itu punya kelebihan buat saya karena dia membangun literasi tekstual yang kuat. Setiap kata, setiap huruf bahkan itu ada artinya. Dikeramati betul titik komanya, semuanya lengkap," ujarnya.

Ia mengungkapkan, tradisi membaca secara ketat seperti yang berkembang di pesantren kini justru mulai sulit ditemukan di dunia Barat. Padahal, menurutnya, metode tersebut pernah menjadi bagian penting dalam tradisi intelektual Islam yang kemudian turut memengaruhi perkembangan pendidikan di Eropa.

"Waktu saya pernah kuliah di salah satu negara di Eropa Barat, ternyata kami juga diajari baca seperti waktu di pondok. Cuma bacanya teks-teks Latin atau Yunani dan bahasa-bahasa lain. Bedanya, laboratorium kita menggunakan teks-teks bahasa Arab sehingga memang terasa lebih berat," katanya.

Meski demikian, Gus Fayyadl menilai perguruan tinggi memiliki keunggulan pada kemampuan membangun pemahaman konseptual dan melihat persoalan secara lebih luas. Sementara itu, lulusan pesantren salaf umumnya lebih unggul dalam membaca dan mengkaji teks secara mendalam.

"Teman-teman di perguruan tinggi mungkin unggul pada garis-garis besarnya, konsepsi globalnya. Tapi untuk literasi tekstualnya mungkin masih kalah. Buat saya itu saling melengkapi sebenarnya," jelasnya.

Menurutnya, tantangan yang masih dihadapi sebagian lulusan pesantren salaf adalah membangun cara berpikir yang lebih filosofis dan konseptual. Oleh karena itu, ia mendorong agar tradisi pembacaan teks yang kuat di pesantren dipadukan dengan kemampuan berpikir lintas disiplin yang berkembang di perguruan tinggi.

"Mereka tidak hanya berhenti pada teks, tetapi juga harus mampu berpikir lintas teks atau antar teks, bahkan berpikir secara lebih konseptual lagi," tegasnya.

Karena itu, Gus Fayyadl memandang akan sangat baik apabila alumni pesantren salaf melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Sebaliknya, mahasiswa yang tumbuh dalam tradisi akademik juga perlu merasakan pengalaman belajar di pesantren agar memperoleh cara pandang yang lebih utuh.

"Saya kira akan baik sebenarnya kalau alumni pondok pesantren salaf melanjutkan ke perguruan tinggi, karena akan menemukan dua cara berpikir yang berbeda. Sebaliknya, teman-teman yang terbiasa berdiskusi di forum-forum akademik juga akan menemukan pola pembelajaran yang berbeda ketika belajar di pondok salaf," ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Gus Fayyadl menegaskan bahwa perbedaan antara pendidikan salaf dan non-salaf tidak seharusnya menjadi alasan untuk dipertentangkan. Baginya, keduanya hanya memiliki paradigma pembelajaran yang berbeda, namun sama-sama berkontribusi dalam membangun tradisi keilmuan.

"Jadi saya kira dikotomi salaf dan non-salaf itu hari ini sudah tidak begitu penting dipertentangkan. Karena bagi saya, itu hanya perbedaan paradigma pembelajaran saja," pungkasnya.